Home » » Bertoleran Ketika Diperolok Orang

Bertoleran Ketika Diperolok Orang

Written By Kim Regina on Kamis, 06 September 2012 | 23.25


Dalam pandangan khalayak ramai, bagaimana menguraikan kesalahpahaman atau luka yang terjadi akibat ejekan orang lain terhadap diri kita, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan.

Kita hanya perlu melapangkan dada (bertoleran), sedikit pengasuhan diri, sedikit pengetahuan, mempunyai rasa simpati serta nyali atau keberanian menanggulangi masalah dengan leluasa. 

Memperolok sama artinya dengan mengejek. Manusia, hampir seluruhnya tidak senang jika diejek orang lain, tetapi ketidak-senangan adalah urusan Anda sendiri. Ada sebagian orang memang senang mencari gara-gara, dalam hal tersebut mungkin menyangkut masalah keuntungan bisnis, nama baik dan kedudukan, cinta, psikis, keuntungan politik dan lain sebagainya karena dengan menggunakan cara ini bisa memukul jatuh mental Anda.

Walaupun ada juga sebagian orang yang sebenarnya melakukan pengejekan ini dengan tak disengaja. Bagaimana menghadapi pengejekan, kebanyakan orang mengambil sikap ‘hutang darah harus dibayar darah’.
Banyak orang yang berpikir, dendam ini jika tidak dibalas bukan lelaki sejati. Sebenarnya manusia, tidak ada seorang pun yang sempurna. Tidak perlu terlalu diperhitungkan atau dimasukkan ke dalam hati terhadap ejekan orang lain yang kadang-kadang menimpa diri kita.

Jika masalahnya agak serius, tiada salahnya jika kita menggunakan cara memperolok diri sendiri, mengurai permasalahan menjadi tidak ada, mengurai kecanggungan menjadi ketenangan dan kesabaran, mengurai kepasifan menjadi aktif.

Menurut cerita, dua ribu tahun yang lalu ada seorang ahli filsafat ternama di Yunani bernama Socrates, dia termasuk seorang pria yang takut dengan istri, dirumah sering kali dimarahi oleh istrinya.

Suatu hari entah apa sebabnya, istrinya memarahi dirinya. Karena masih merasa kurang puas, istrinya pun mengambil satu baskom air dan menyiramkannya ke tubuh suaminya di depan khalayak ramai. Socrates hampir saja basah kuyup bagaikan ayam yang menjadi sup.

Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Socrates dengan tenang berkata “Sebenarnya saya sejak awal sudah tahu, setelah guntur menggelegar akan turun hujan.” Perkataannya ini telah menguraikan rasa ektrim malu Socrates di tempat kejadian itu. ( Huang Chao Ping )
Share this article :

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Kisah Motivasi Hidup | Kisah Motivasi Hidup
Copyright © 2011. Kisah Motivasi Hidup - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kisah Motivasi Hidup
Proudly powered by Blogger