Home » » Korupsi Sekali, Ditanggung Ratusan Tahun

Korupsi Sekali, Ditanggung Ratusan Tahun

Written By Kim Regina on Senin, 02 Juli 2012 | 05.16

Pada suatu hari seseorang sedang berdiskusi dengan seorang nyonya tua dari sebuah desa mengenai pepatah kuno, “Berbuat baik akan mendapat balasan baik.”

Nyonya tua ini berkata, ”Saya percaya kepada pepatah ini.” Dia lalu bercerita tentang pengalaman kakeknya.

Kakek nyonya tua bernama Tuan Pik, adalah seorang saudagar, dia selalu berdagang ke seluruh penjuru Negara.

Pada suatu hari, dia tiba di sebuah kota kecil yang bernama Tungyuan, Hebei. Di kota ini ada sebuah penginapan. Setiap kali Tuan Pik datang ke kota ini selalu menginap di penginapan ini. Ada kasirnya seorang pria. Orangnya sangat jujur, baik hati dan selalu ramah melayani setiap tamu. Oleh sebab itu setiap kali singgah tuan Pik selalu mengobrol dengannya.
Pak Kasir ini mempunyai sebuah jari jempol yang sepanjang tahun dibungkus dengan perban. Banyak orang termasuk Tuan Pik pernah menanyakan kenapa tangannya dibungkus terus. Pak Kasir ini hanya berkata bahwa jempolnya terkena suatu penyakit, dan meski sudah mencari berbagai macam pengobatan namun tidak kunjung sembuh. Oleh sebab itulah jempolnya diperban terus.

Sekali ini Tuan Pik masih menanyakan mengenai jempol tangannya. Pak Kasir lalu berkata, ”Hari ini saya akan memperlihatkan jempol saya, dan menceritakan apa yang terjadi?” Dia lalu membuka perban itu, setelah perban terbuka Tuan Pik menjadi sangat terkejut. Rupanya bukan sebuah jempol tangan biasa, bukan juga sebuah jempol yang sepanjang tahun luka. Lalu? ternyata jempol itu adalah sebuah jari kaki babi!

Pak Kasir lalu dengan serius menceritakan keadaan kehidupan lalunya. Sejak kecil, entah kenapa dia bisa mengingat kejadian kehidupan yang lalu. Di kehidupan yang lalu dia adalah seorang bhiksu yang tinggal di sebuah biara. Pada saat itu biara akan direnovasi. Oleh sebab itu ada penderma yang mendermakan uang, pada saat itu timbul rasa tamaknya, dia korupsi 200 yuan dari uang tersebut.

Pada saat dia meninggal, setelah reinkarnasi dia berubah menjadi seekor keledai karena 200 yuan yang dikorupsinya. Sepanjang hari bekerja keras membanting tulang membayar hutangnya. Setiap hari dia harus mengangkut barang yang sangat berat, tidak pernah beristirahat.

Punggungnya terluka, lukanya mulai membusuk tetapi majikannya tidak mengobati dan tidak membiarkan dia beristirahat. Akhirnya karena putus asa dia bunuh diri dengan melompat ke jurang.

Setelah meninggal sampai ke neraka, raja neraka berkata, "hutangmu yang 200 yuan belum habis dilunasi !”
Dia kemudian reinkarnasi kembali menjadi seekor babi kecil, babi kecil ini sangat rakus oleh sebab itu dalam beberapa bulan sudah tumbuh menjadi ratusan kilo, lalu dibunuh oleh penjagal babi.

Kemudian dia reinkarnasi lagi, menjadi seorang bayi lelaki. Bayi ini sejak lahir jempol tangannya berbentuk jari babi. Inilah kehidupannya yang sekarang. Sejak kecil, karena mengetahui kehidupan yang dulu, maka pada kehidupan yang sekarang dia tidak berani berbuat jahat, seperti menipu, korupsi, tamak, dan perbuatan jahat lainnya.

Pak Kasir dengan serius berkata kepada Tuan Pik, "setiap hal yang dilakukan harus menanggung akibatnya, berbuat baik akan mendapat balasan baik dan berbuat jahat akan mendapat karma. Semua itu adalah kebenaran! Jari babi ini akan selalu mengingatkanku agar jangan pernah melakukan perbuatan yang jahat lagi. Juga mengingatkan semua orang yang pernah mendengar ceritaku."

Akhirnya, ketika Tuan Pik pulang ke rumahnya, ia mengumpilkan seluruh anggota keluarganya. Dia menceritakan cerita ini kepada anggota keluarganya dengan serius, dan mengingatkan mereka untuk selalu menceritakan hal ini kepada anak cucu mereka.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

2 Juli 2012 08.10

I like it,,,
Sure..

6 Juli 2012 02.31

:b:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Kisah Motivasi Hidup | Kisah Motivasi Hidup
Copyright © 2011. Kisah Motivasi Hidup - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kisah Motivasi Hidup
Proudly powered by Blogger