Latest Post
21.26
~BELAJAR DARI AIR~
Written By Regina Kim on Senin, 01 Agustus 2011 | 21.26
Air dapat memperoleh sesuatu dengan kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena dengan sedikit demi sedikit ia bergerak tetapi ia dapat menembus bebatuan yang keras.
Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, ia flexibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia.
Air tidak putus asa, Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Ia tidak putus asa.
Tapi ingat Air pun kalau tidak dikelola dgn benar juga dapat menimbulkan bencana.
Jadi ...
Ingatlah bahwa hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.
Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.Walaupun kadang kita terhalang oleh kesulitan dgn meniru filosofi air maka kita akan selalu berusaha untuk mencari jalan keluar mengatasi masalah kita .
Bekerjalah terus tanpa mengenal lelah untuk mencapai visi dan tujuan yang anda punyai .
"Mengalirlah Seperti air , Hiduplah dengan Iman dan Kepercayaan diri yang Tinggi
Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, ia flexibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia.
Air tidak putus asa, Ia tetap mengalir meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Ia tidak putus asa.
Tapi ingat Air pun kalau tidak dikelola dgn benar juga dapat menimbulkan bencana.
Jadi ...
Ingatlah bahwa hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.
Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.Walaupun kadang kita terhalang oleh kesulitan dgn meniru filosofi air maka kita akan selalu berusaha untuk mencari jalan keluar mengatasi masalah kita .
Bekerjalah terus tanpa mengenal lelah untuk mencapai visi dan tujuan yang anda punyai .
"Mengalirlah Seperti air , Hiduplah dengan Iman dan Kepercayaan diri yang Tinggi
Label:
~BELAJAR DARI AIR~
21.26
Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.
Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.
Tips Cara Mengatasi Emosi Meredam Amarah/Marah Yang Dapat Merugikan Kita Dan Orang Lain
Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya. Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.
21.24
~ONGKOS KE AKHIRAT~
Saya menemui Ibu Ela di rumahnya, depan mesjid jami Al Hidayah di Darmaga Lonceng, Bogor. Menemuinya tidak butuh waktu lama, karena hampir semua orang di dekat mesjid itu kenal Ibu Ela. Rumahnya ada di dalam gang, sedikit di bibir sungai.
Saya mengucap salam dan dijawab oleh tetangganya…
“Mas.. cari bu Ela ya…?”
“Iya… orangnya ada Bu…?” tanya saya..
“Oh.. dia lagi di sungai” kata ibu tadi
“Ngapain Bu..?” saya bertanya lagi. Mungkin sedang mencuci pakaian, pikir saya.
“Memang kerjaannya tiap hari ke sungai, mungutin sampah-sampah plastic dari botol kemasan sabun atau shampoo… bentar lagi juga pulang.” Jawab itu tadi panjang lebar.
Informasi yang saya terima ternyata benar adanya. Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya memang mengumpullkan sampah plastic dari kemasan. Cuma saya tidak terbayang, bahwa untuk memperolehnya, dia harus memungut di sungai.
Tak beberapa lama, datang wanita paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya. Ibu Ela. Mengenakan baju bergambar salah satu calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden tahun 2004 lalu.
Saya langsung menyapa.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela..
“Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan mengunakan ‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’.
“Oh.. boleh, silahkan masuk.”
Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka.
“Silahkan masuk…”
Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya.
“Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela.
Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panic yang diisi air. Ibu Ela harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.
“Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak.
Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’.
Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain mencari plastic,
“Mengaji…” katanya
“Hari apa aja Bu…?” Tanya saya
“Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu adalah hari untuk menemani Ibu yang dirawat di rumahnya.
Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela.
Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.
Saya tanya lagi,
“Paling jauh pengajiannya dimana Bu?”
“Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela.
“Kesana naik mobil dong..?” tanya saya.
“Saya jalan kaki” kata Ibu Ela
“Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran.
Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang Rp 7.000 sehari.
“Iya.. mas, saya jalan kaki dari dini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke ustadz…” Ibu Ela menjelaskan.
“Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati.
“Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, datar.
“Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong.
“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat.
Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak!
Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding!
Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.
Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan menjadi haknya di akherat kelak?
‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, mungkin minggu depan.
Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.
Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money)
Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya.
Ibu Ela mendapatkan ganti Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah ganti di akherat kelak.
Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak...
Sudahkah kita menyisihkan ongkos ke akherat?
Saya mengucap salam dan dijawab oleh tetangganya…
“Mas.. cari bu Ela ya…?”
“Iya… orangnya ada Bu…?” tanya saya..
“Oh.. dia lagi di sungai” kata ibu tadi
“Ngapain Bu..?” saya bertanya lagi. Mungkin sedang mencuci pakaian, pikir saya.
“Memang kerjaannya tiap hari ke sungai, mungutin sampah-sampah plastic dari botol kemasan sabun atau shampoo… bentar lagi juga pulang.” Jawab itu tadi panjang lebar.
Informasi yang saya terima ternyata benar adanya. Ibu Ela adalah wanita yang pekerjaannya memang mengumpullkan sampah plastic dari kemasan. Cuma saya tidak terbayang, bahwa untuk memperolehnya, dia harus memungut di sungai.
Tak beberapa lama, datang wanita paruh baya, kurus, rambutnya diikat ke belakang, banyak warna putihnya. Ibu Ela. Mengenakan baju bergambar salah satu calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden tahun 2004 lalu.
Saya langsung menyapa.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Ada apa ya Pak?” tanya Ibu Ela..
“Saya dari tabloid An Nuur, mendapat cerita dari seseorang untuk menemui Ibu. Kami mau wawancara sebentar, boleh Bu…?” saya menjelaskan, dan mengunakan ‘Tabloid An Nuur’ sebagai ‘penyamaran’.
“Oh.. boleh, silahkan masuk.”
Ibu Ela, masuk lewat pintu belakang. Saya menunggu di depan. Tak beberapa lama, lampu listrik di ruang tengahnya nyala, dan pintu depan pun dibuka.
“Silahkan masuk…”
Saya masuk ke dalam ‘ruang tamu’ yang diisi oleh dua kursi kayu yang sudah reot. Tempat dudukannya busa yang sudah bolong di bagian pinggir. Rupanya Ibu Ela hanya menyalakan lampu listrik jika ada tamu saja. Kalau rumahnya ditinggalkan, listrik biasa dimatikan. Berhemat katanya.
“Sebentar ya Pak, saya ambil air minum dulu” kata Ibu Ela.
Yang dimaksud Ibu Ela dengan ambil air minum adalah menyalakan tungku dengan kayu bakar dan diatasnya ada sebuah panic yang diisi air. Ibu Ela harus memasak air dulu untuk menyediakan air minum bagi tamunya.
“Iya Bu.. ngga usah repot-repot.” Kata saya ngga enak.
Kami pun mulai ngobrol, atau ‘wawancara’.
Ibu Ela ini usianya 54 tahun, pekerjaan utamanya mengumpulkan plastic dan menjualnya seharga Rp 7.000 per kilo. Ketika saya Tanya aktivitasnya selain mencari plastic,
“Mengaji…” katanya
“Hari apa aja Bu…?” Tanya saya
“Hari senin, selasa, rabu, kamis, sabtu…” jawabnya. Hari Jum’at dan Minggu adalah hari untuk menemani Ibu yang dirawat di rumahnya.
Oh.. jadi mengaji rupanya yang jadi aktivitas paling banyak. Ternyata dalam pengajian itu, biasanya ibu-ibu pengajian yang pasti mendapat minuman kemasan, secara sukarela dan otomatis akan mengumpulkan gelas kemasan air mineral dalam plastik dan menjadi oleh-oleh untuk Ibu Ela.
Hmm, sambil menyelam minum air rupanya. Sambil mengaji dapat plastik.
Saya tanya lagi,
“Paling jauh pengajiannya dimana Bu?”
“Di dekat terminal Bubulak, ada mesjid taklim tiap Sabtu. Saya selalu hadir; ustadznya bagus sih…” kata Ibu Ela.
“Kesana naik mobil dong..?” tanya saya.
“Saya jalan kaki” kata Ibu Ela
“Kok jalan kaki…?” tanya saya penasaran.
Penghasilan Ibu Ela sekitar Rp 7.000 sehari. Saya mau tahu alokasi uang itu untuk kehidupan sehari-harinya. Bingung juga bagaimana bisa hidup dengan uang Rp 7.000 sehari.
“Iya.. mas, saya jalan kaki dari dini. Ada jalan pintas, walaupun harus lewat sawah dan jalan kecil. Kalau saya jalan kaki, khan saya punya sisa uang Rp 2.000 yang harusnya buat ongkos, nah itu saya sisihkan untuk sedekah ke ustadz…” Ibu Ela menjelaskan.
“Maksudnya, uang Rp 2.000 itu Ibu kasih ke pak Ustadz?” Saya melongo. Khan Ibu ngga punya uang, gumam saya dalam hati.
“Iya, yang Rp 2.000 saya kasih ke Pak Ustadz… buat sedekah.” Kata Ibu Ela, datar.
“Kenapa Bu, kok dikasihin?” saya masih bengong.
“Soalnya, kalau saya sedekahkan, uang Rp 2.000 itu udah pasti milik saya di akherat, dicatet sama Allah…. Kalau uang sisa yang saya miliki bisa aja rezeki orang lain, mungkin rezeki tukang beras, tukang gula, tukang minyak tanah….” Ibu Ela menjelaskan, kedengarannya jadi seperti pakar pengelolaan keuangan keluarga yang hebat.
Dzig! Saya seperti ditonjok Cris John. Telak!
Ada rambut yang serempak berdiri di tengkuk dan tangan saya. Saya Merinding!
Ibu Ela tidak tahu kalau dia berhadapan dengan saya, seorang sarjana ekonomi yang seumur-umur belum pernah menemukan teori pengelolaan keuangan seperti itu.
Jadi, Ibu Ela menyisihkan uangnya, Rp 2.000 dari Rp 7.000 sehari untuk disedekahkan kepada sebuah majlis karena berpikiran bahwa itulah yang akan menjadi haknya di akherat kelak?
‘Wawancara’ yang sebenarnya jadi-jadian itu pun segera berakhir. Saya pamit dan menyampaikan bahwa kalau sudah dimuat, saya akan menemui Ibu Ela kembali, mungkin minggu depan.
Saya sebenarnya on mission, mencari orang-orang seperti Ibu Ela yang cerita hidupnya bisa membuat ‘merinding’..Saya sudah menemukan kekuatan dibalik kesederhanaan. Keteguhan yang menghasilkan kesabaran. Ibu Ela terpilih untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa dan tak terduga.
Minggu depannya, saya datang kembali ke Ibu Ela, kali ini bersama dengan kru televisi dan seorang presenter kondang yang mengenakan tuxedo, topi tinggi, wajahnya dihiasai janggut palsu, mengenakan kaca mata hitam dan selalu membawa tongkat. Namanya Mr. EM (Easy Money)
Kru yang bersama saya adalah kru Uang Kaget, program di RCTI yang telah memilih Ibu Ela sebagai ‘bintang’ di salah satu episode yang menurut saya salah satu yang terbaik. Saya mengetahuinya, karena dibalik kacamata hitamnya, Mr. EM seringkali tidak kuasa menahan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca. Tidak terlihat di televisi, tapi saya merasakannya.
Ibu Ela mendapatkan ganti Rp 2.000 yang disedekahkannya dengan Rp 10 juta dari uang kaget. Entah berapa yang Allah ganti di akherat kelak.
Ibu Ela membeli beras, kulkas, makanan, dll untuk melengkapi rumahnya. Entah apa yang dibelikan Allah untuk rumah indahnya di akherat kelak...
Sudahkah kita menyisihkan ongkos ke akherat?
Label:
~ONGKOS KE AKHIRAT~
21.23
~Kapan Qta mensyukuri kekurangan ini~
Jika kita memperhatikan kita dan manusia yang lainnya,anda semua akan melihat ternyata kita ini memiliki beberapa kekurangan. entah itu kurang putih,kurang mancung,kurang tinggi,kurang pintar dan sebagainya.namun sayangnya beberapa diantara kita ternyata ada yang merasa bahwa kehadiran kekurangan tersebut menghambat kesuksesan kita. misalkan saja seseorang pernah berkata seperti ini,”Enak banget dia ya,bisa sukses lantaran dia ganteng.coba aku bisa seganteng dia,huuuhhh,pasti terkenal dah aku ni”. hey!tunggu dulu! Kita juga bisa kali sukses dengan kekurangan. namun berbicara tentang ini,saya teringat salah satu episode spongebob.
Waktu dipagi hari di Bikini Bottom,seperti biasa,restoran crusty crab,sponge bob selalu saja bersemangat. hingga sakin semangatnya ketika ia membuka pintu,ternyata pintu tersebut mengenai wajah rekan kerjanya,squidward. Yang memaksa squidward masuk rumah sakit.ketika dirumah sakit,ternyata ia dioprasi wajah oleh dokter yang membuat wajah squid menjadi jauh lebih tampan dari sebelumnya. jelas saja hal ini membuat squidward sangat senang dan mempunyai banyak fans. namun semakin hari ia semakin sengsara menjalani hidupnya karna hari-harinya terganggu oleh para fansnya squidward,ia merasa bahwa hidupnya sangat rusak. lalu ketika di crusty crab,ia meminta sponge bob untuk membenturkan wajahnya kepintu agar wajahnya bisa kembali seperti semula. namun apakah bisa wajahnya kembali seperti semula?ternyata wajahnya pun menjadi lebih tampan lagi dari sebelumnya.lantas ini membuatnya semakin kacau. namun ketika squidward terpeleset dan membentur sebuah tiang. apa yang terjadi?wajahnya kembali seperti semula lengkap dengan hidungnya yang panjang menjolor kebawah. seketika hidupnya menjadi indah dan lebih baik dari sebelumnya.
Apa hikmah yang bisa anda ambil dari atas? ya. anda benar!bersyukurlah atas kekurangan anda. tidak harus tampan untuk membuat hidup anda menjadi sukses,tidak harus memiliki segala kesempurnaan untuk meraih semua cita-cita anda.lagipula perlu biaya yang tidak sedikit kan untuk merubah kekurangan fisik anda menjadi lebih sempurna?syukurilah apapun yang ada pada diri anda. dan percayalah didalam kekurangan anda ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain
Waktu dipagi hari di Bikini Bottom,seperti biasa,restoran crusty crab,sponge bob selalu saja bersemangat. hingga sakin semangatnya ketika ia membuka pintu,ternyata pintu tersebut mengenai wajah rekan kerjanya,squidward. Yang memaksa squidward masuk rumah sakit.ketika dirumah sakit,ternyata ia dioprasi wajah oleh dokter yang membuat wajah squid menjadi jauh lebih tampan dari sebelumnya. jelas saja hal ini membuat squidward sangat senang dan mempunyai banyak fans. namun semakin hari ia semakin sengsara menjalani hidupnya karna hari-harinya terganggu oleh para fansnya squidward,ia merasa bahwa hidupnya sangat rusak. lalu ketika di crusty crab,ia meminta sponge bob untuk membenturkan wajahnya kepintu agar wajahnya bisa kembali seperti semula. namun apakah bisa wajahnya kembali seperti semula?ternyata wajahnya pun menjadi lebih tampan lagi dari sebelumnya.lantas ini membuatnya semakin kacau. namun ketika squidward terpeleset dan membentur sebuah tiang. apa yang terjadi?wajahnya kembali seperti semula lengkap dengan hidungnya yang panjang menjolor kebawah. seketika hidupnya menjadi indah dan lebih baik dari sebelumnya.
Apa hikmah yang bisa anda ambil dari atas? ya. anda benar!bersyukurlah atas kekurangan anda. tidak harus tampan untuk membuat hidup anda menjadi sukses,tidak harus memiliki segala kesempurnaan untuk meraih semua cita-cita anda.lagipula perlu biaya yang tidak sedikit kan untuk merubah kekurangan fisik anda menjadi lebih sempurna?syukurilah apapun yang ada pada diri anda. dan percayalah didalam kekurangan anda ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain
21.22
~Petunjuk Kedamaian Pikiran utk si BODOH~
Saya menceritakan kisah sebelumnya kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu Jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya, seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tersebut dengan
anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temannya, si ayah bertanya kepada anaknya, "Kamu sudah bikin PR belum?" Anaknya menjawab, ”Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa,
yang sudah selesai, ya sudah selesai Daa... daaa...!"
Pada hari minggu berikutnya, saya menceritakan kisah yang lain.Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagi orang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain. Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmati berkah alam.
Orang bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi, pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru akan melarutkan diri dalam kedamaian di taman.
Jadi, hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu .... Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru
sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang ”istirahat dalam damai" hanya dapat ditemukan di pekuburan?
Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman.
Orang bodoh ketiga menyingkirkan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai ditamannya... selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, "Rumput itu perlu dipotong dan semak•semak di sana harus
dibabat segera. Jika saya tidak segera menyiram bunga—bunga itu, mereka akan Iayu. Dan rasanya tanaman kaca—piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana.Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di
tempat pembibitan...!’ ltu sih namanya menikmati berpikir dan berencana.Tak ada kedamaian pikiran di situ. Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, "Saya telah
bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG." Dengan cara inilah, kita
temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.
satu semak dan siap untuk melompat keluar dan memberitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yang berantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, alih-alih memusatkan pada pekerjaan yang masih harus diselesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang
sudah selesai, ya sudah selesai. Namun, jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus tembok bata di wihara saya, kita tak akan pernah tahu apa itu kedamaian. Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu, setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.
Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian ditaman kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya, kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekaiipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.
anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temannya, si ayah bertanya kepada anaknya, "Kamu sudah bikin PR belum?" Anaknya menjawab, ”Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa,
yang sudah selesai, ya sudah selesai Daa... daaa...!"
Pada hari minggu berikutnya, saya menceritakan kisah yang lain.Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagi orang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain. Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmati berkah alam.
Orang bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi, pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru akan melarutkan diri dalam kedamaian di taman.
Jadi, hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu .... Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru
sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang ”istirahat dalam damai" hanya dapat ditemukan di pekuburan?
Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman.
Orang bodoh ketiga menyingkirkan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai ditamannya... selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, "Rumput itu perlu dipotong dan semak•semak di sana harus
dibabat segera. Jika saya tidak segera menyiram bunga—bunga itu, mereka akan Iayu. Dan rasanya tanaman kaca—piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana.Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di
tempat pembibitan...!’ ltu sih namanya menikmati berpikir dan berencana.Tak ada kedamaian pikiran di situ. Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, "Saya telah
bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG." Dengan cara inilah, kita
temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.
satu semak dan siap untuk melompat keluar dan memberitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yang berantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, alih-alih memusatkan pada pekerjaan yang masih harus diselesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang
sudah selesai, ya sudah selesai. Namun, jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus tembok bata di wihara saya, kita tak akan pernah tahu apa itu kedamaian. Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu, setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.
Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian ditaman kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya, kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekaiipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.
21.22
~Wangi Hujan~
Angin bulan Maret yang dingin meniup malam yang sunyi di Dallas ketika dokter berjalan ke sebuah ruang rumah sakit yang kecil.
Diana Blessing. Masih gugup karena operasi, David suaminya memegang tangannya ketika mereka mempersiapkan diri untuk menerima kabar terakhir. Sore itu 10 Maret 1991, komplikasi menimpa anak mereka, Cindy Lou Blessing.
Dengan panjang 12 inci dan hanya seberat 1 pon dan 9 ons, mereka mengetahui bahwa Cindy lahir prematur dan dalam kondisi yang membahayakan. Walau demikian, tetap saja perkataan sang dokter jatuh seperti bom bagi mereka.
"Aku kira ia tidak dapat melaluinya",katanya, mengucapkannya selembut yang ia dapat. "Hanya 10 persen kemungkinannya ia akan hidup melalui malam ini, dan bahkan jika benar, masa depannya akan menjadi sangat kejam."Kaku karena ketidakpercayaannya atas berita itu,
David dan Diana mendengarkan sementara sang dokter menggambarkan masalah besar yang akan Cindy hadapi jika ia berhasil hidup. Ia tidak akan dapat berbicara, bahkan ia dapat menjadi buta, dan ia dapat dipastikan akan mudah dan rapuh sekali terkena hal yang membahayakannya dari lumpuh karena otak yang luka sampai keterbelakangan mental, dan sebagainya.
"Tidak! Tidak!"
adalah satu-satunya hal yang dapat Diana katakan. Ia dan David, dengan anaknya Dustin yang berumur 5 tahun, telah sejak lama memimpikan memiliki seorang anak perempuan dalam keluarga mereka.
Sekarang, hanya dalam hitungan jam, mimpi itu telah pergi.Melalui jam-jam yang gelap di pagi itu sementara Cindy tergantung pada kehidupan oleh seutas benang, Diana mengalami tidur yang gelisah, menjadi semakin dikuatkan bahwa anak perempuan mungil mereka akan hidup dan hidup menjadi gadis muda yang sehat dan bahagia.
Tapi David, terjaga dan mendengarkan detail kemungkinan hidup putri mereka akan meninggalkan rumah sakit dengan hidup, dan tidak sehat, mengetahui bahwa ia harus memberitahukan istrinya hal-hal yang tidak mereka harapkan. David masuk dan mengatakan bahwa mereka perlu membicarakan sebuah rencana pemakaman. Diana mengingat,
"Aku merasa sangat kecewa padanya karena segala hal yang ia kerjakan mencoba untuk mengajakku dalam segala hal yang sedang terjadi, tapi aku hanya tidak mau mendengarkannya, aku tidak mau mendengarkannya."
Aku berkata,
"Tidak, hal itu tidak akan terjadi, tidak boleh! Aku tidak perduli apa yang dikatakan dokter, Cindy tidak akan meninggal! Suatu hari ia akan menjadi baik dan pulang ke rumah bersama kami!"
Bagaikan digerakkan hidup oleh tekad Diana, Cindy bertahan hidup jam demi jam, dengan pertolongan setiap peralatan dan keajaiban medis yang ada yang tubuh kecilnya dapat menanggungnya.
Tapi ketika hari-hari pertama itu berlalu, sebuah kepedihan yang baru muncul bagi David dan Diana. Karena sistem sarafnya yang belum berkembang terlalu rapuh, maka ciuman ringan atau sentuhan sayang merekapun hanya akan menyebabkan penderitaan baginya, sehingga dengan demikian mereka bahkan tidak dapat menggendong bayi kecil mereka untuk memberikan kekuatan cinta baginya.
Sementara Cindy berjuang di bawah sinar ultra violet dan kabel-kabel serta tabung-tabung apa yang dapat mereka lakukan hanyalah berdoa supaya Tuhan tetap berada di dekat bayi mungil mereka yang berharga. Tidak pernah ada waktu di mana Cindy menjadi lebih kuat. Tapi sementara minggu-minggu berlalu dengan perlahan berat badannya bertambah seons di sini dan bertambah kuat seons di sana.
Akhirnya, ketika Cindy berumur 2 bulan, orang tuanya dapat merangkulnya untuk pertama kalinya. Dan 2 bulan kemudian walaupun dokter dengan lembut memperingatkan bahwa peluang hidupnya, tidak dapat dikatakan hidup secara normal, adalah sama dengan nol, Cindy pulang ke rumah dari rumah sakit itu, persis seperti yang ibunya perkirakan.
Hari ini, lima tahun kemudian, Cindy adalah seorang gadis mungil yang lincah, dengan mata abu-abu yang bersinar-sinar dan semangat hidup yang tidak pernah padam. Ia tidak menunjukkan sama sekali cacat secara mental atau fisik. Secara singkat, ia adalah sosok gadis kecil yang sempurna namun ini bukanlah akhir dari cerita ini.
Suatu sore yang cerah di musim panas 1996 dekat rumahnya di Irving, Texas, Cindy sedang duduk di pangkuan ibunya di tempat duduk suatu lapangan bola di mana tim baseball kakaknya Dustin sedang berlatih. Seperti biasanya Cindy mengobrol dengan ibunya dan beberapa orang dewasa yang duduk di dekatnya ketika tiba-tiba ia terdiam. Dengan memeluk lengan ibunya di depan dadanya Cindy bertanya,
"Apakah mama menciumnya?"
Dengan membaui udara dan mengenali aroma badai yang mendekat, Diana menjawab,
"Iya, wanginya seperti wangi hujan."
Cindy menutup matanya dan kembali bertanya,
"Apakah mama menciumnya?"
Kembali ibunya menjawab,
"Iya, aku pikir kita akan menjadi basah, ini adalah wangi hujan."
Masih terbawa oleh suasana itu, Cindy menggelengkan kepalanya, menepuk-nepuk bahunya yang kurus dengan tangannya yang kecil dan dengan keras berkata,
"Tidak, ini seperti wanginya DIA. Ini adalah seperti wangi Tuhan waktu kau menyandarkan kepalamu di dadaNya."
Air mata mengaburkan mata Diana ketika kemudian Cindy dengan gembira melompat turun untuk bermain dengan anak-anak lainnya.
Sebelum hujan turun, kata-kata anak perempuannya memastikan apa yang Diana dan seluruh keluarga Blessing sudah ketahui, paling tidak di dalam hati mereka, selama ini. Selama hari-hari dan malam-malam yang panjang dari dua bulan pertama kehidupannya, ketika sarafnya masih terlalu lemah untuk menerima sentuhan mereka,
Tuhan memegang Cindy di dadaNya dan wangi yang harum inilah yang paling diingat olehnya.
" Better be a book worm than a croak"
Diana Blessing. Masih gugup karena operasi, David suaminya memegang tangannya ketika mereka mempersiapkan diri untuk menerima kabar terakhir. Sore itu 10 Maret 1991, komplikasi menimpa anak mereka, Cindy Lou Blessing.
Dengan panjang 12 inci dan hanya seberat 1 pon dan 9 ons, mereka mengetahui bahwa Cindy lahir prematur dan dalam kondisi yang membahayakan. Walau demikian, tetap saja perkataan sang dokter jatuh seperti bom bagi mereka.
"Aku kira ia tidak dapat melaluinya",katanya, mengucapkannya selembut yang ia dapat. "Hanya 10 persen kemungkinannya ia akan hidup melalui malam ini, dan bahkan jika benar, masa depannya akan menjadi sangat kejam."Kaku karena ketidakpercayaannya atas berita itu,
David dan Diana mendengarkan sementara sang dokter menggambarkan masalah besar yang akan Cindy hadapi jika ia berhasil hidup. Ia tidak akan dapat berbicara, bahkan ia dapat menjadi buta, dan ia dapat dipastikan akan mudah dan rapuh sekali terkena hal yang membahayakannya dari lumpuh karena otak yang luka sampai keterbelakangan mental, dan sebagainya.
"Tidak! Tidak!"
adalah satu-satunya hal yang dapat Diana katakan. Ia dan David, dengan anaknya Dustin yang berumur 5 tahun, telah sejak lama memimpikan memiliki seorang anak perempuan dalam keluarga mereka.
Sekarang, hanya dalam hitungan jam, mimpi itu telah pergi.Melalui jam-jam yang gelap di pagi itu sementara Cindy tergantung pada kehidupan oleh seutas benang, Diana mengalami tidur yang gelisah, menjadi semakin dikuatkan bahwa anak perempuan mungil mereka akan hidup dan hidup menjadi gadis muda yang sehat dan bahagia.
Tapi David, terjaga dan mendengarkan detail kemungkinan hidup putri mereka akan meninggalkan rumah sakit dengan hidup, dan tidak sehat, mengetahui bahwa ia harus memberitahukan istrinya hal-hal yang tidak mereka harapkan. David masuk dan mengatakan bahwa mereka perlu membicarakan sebuah rencana pemakaman. Diana mengingat,
"Aku merasa sangat kecewa padanya karena segala hal yang ia kerjakan mencoba untuk mengajakku dalam segala hal yang sedang terjadi, tapi aku hanya tidak mau mendengarkannya, aku tidak mau mendengarkannya."
Aku berkata,
"Tidak, hal itu tidak akan terjadi, tidak boleh! Aku tidak perduli apa yang dikatakan dokter, Cindy tidak akan meninggal! Suatu hari ia akan menjadi baik dan pulang ke rumah bersama kami!"
Bagaikan digerakkan hidup oleh tekad Diana, Cindy bertahan hidup jam demi jam, dengan pertolongan setiap peralatan dan keajaiban medis yang ada yang tubuh kecilnya dapat menanggungnya.
Tapi ketika hari-hari pertama itu berlalu, sebuah kepedihan yang baru muncul bagi David dan Diana. Karena sistem sarafnya yang belum berkembang terlalu rapuh, maka ciuman ringan atau sentuhan sayang merekapun hanya akan menyebabkan penderitaan baginya, sehingga dengan demikian mereka bahkan tidak dapat menggendong bayi kecil mereka untuk memberikan kekuatan cinta baginya.
Sementara Cindy berjuang di bawah sinar ultra violet dan kabel-kabel serta tabung-tabung apa yang dapat mereka lakukan hanyalah berdoa supaya Tuhan tetap berada di dekat bayi mungil mereka yang berharga. Tidak pernah ada waktu di mana Cindy menjadi lebih kuat. Tapi sementara minggu-minggu berlalu dengan perlahan berat badannya bertambah seons di sini dan bertambah kuat seons di sana.
Akhirnya, ketika Cindy berumur 2 bulan, orang tuanya dapat merangkulnya untuk pertama kalinya. Dan 2 bulan kemudian walaupun dokter dengan lembut memperingatkan bahwa peluang hidupnya, tidak dapat dikatakan hidup secara normal, adalah sama dengan nol, Cindy pulang ke rumah dari rumah sakit itu, persis seperti yang ibunya perkirakan.
Hari ini, lima tahun kemudian, Cindy adalah seorang gadis mungil yang lincah, dengan mata abu-abu yang bersinar-sinar dan semangat hidup yang tidak pernah padam. Ia tidak menunjukkan sama sekali cacat secara mental atau fisik. Secara singkat, ia adalah sosok gadis kecil yang sempurna namun ini bukanlah akhir dari cerita ini.
Suatu sore yang cerah di musim panas 1996 dekat rumahnya di Irving, Texas, Cindy sedang duduk di pangkuan ibunya di tempat duduk suatu lapangan bola di mana tim baseball kakaknya Dustin sedang berlatih. Seperti biasanya Cindy mengobrol dengan ibunya dan beberapa orang dewasa yang duduk di dekatnya ketika tiba-tiba ia terdiam. Dengan memeluk lengan ibunya di depan dadanya Cindy bertanya,
"Apakah mama menciumnya?"
Dengan membaui udara dan mengenali aroma badai yang mendekat, Diana menjawab,
"Iya, wanginya seperti wangi hujan."
Cindy menutup matanya dan kembali bertanya,
"Apakah mama menciumnya?"
Kembali ibunya menjawab,
"Iya, aku pikir kita akan menjadi basah, ini adalah wangi hujan."
Masih terbawa oleh suasana itu, Cindy menggelengkan kepalanya, menepuk-nepuk bahunya yang kurus dengan tangannya yang kecil dan dengan keras berkata,
"Tidak, ini seperti wanginya DIA. Ini adalah seperti wangi Tuhan waktu kau menyandarkan kepalamu di dadaNya."
Air mata mengaburkan mata Diana ketika kemudian Cindy dengan gembira melompat turun untuk bermain dengan anak-anak lainnya.
Sebelum hujan turun, kata-kata anak perempuannya memastikan apa yang Diana dan seluruh keluarga Blessing sudah ketahui, paling tidak di dalam hati mereka, selama ini. Selama hari-hari dan malam-malam yang panjang dari dua bulan pertama kehidupannya, ketika sarafnya masih terlalu lemah untuk menerima sentuhan mereka,
Tuhan memegang Cindy di dadaNya dan wangi yang harum inilah yang paling diingat olehnya.
" Better be a book worm than a croak"
Label:
~Wangi Hujan~
Diberdayakan oleh Blogger.




