Latest Post

Kisah Master Zen tentang Suami Istri yang selalu bertengkar

Written By Regina Kim on Rabu, 15 Januari 2020 | 01.18

divorce

Alkisah ada 1 keluarga selalu mengalami keributan dari suami isteri, lalu mencoba datang menghadap kepada Master Zen untuk meminta pencerahan.

Sang Istri berkata:
“Master, kami sudah lama menikah, anakpun sudah besar-besar, tetapi rumah tangga kami selalu dirundung masalah, keributan dan ketidakcocokan selalu terjadi setiap hari, Saya sebagai istri ingin bercerai dengan suami saya, dan hendak mencari pasangan hidup yang baru, mohon pencerahan dari Master.”

Sang Suami tidak mau kalah berkata:
“Master yang bijaksana, bagaimana saya tidak sabar, setiap hari perlakuan istri saya berkata kasar, tidak peduli dengan keadaan saya sebagai kepala keluarga, saya dengan tulus mencari nafkah demi semua keperluan rumah tangga dan anak-anak tercinta, saya selalu setia walau berat dengan setiap hari karena tuntutan istri yang selalu dirundung kekurangan dan kekurangan untuk biaya hidup, saya juga ingin bercerai, bagaimana pendapat Master?”

Master Zen berkata:
”Apapun keputusan yang kalian ambil, SEMUA HANYA AKAN MENJADI PENYESALAN, Silakan pulang dan Hidup Bahagia”

Mereka tidak puas, dan berkata: ”Mengapa demikian?”

Master Zen pun berkata:
”Bila saya menyetujui kalian bercerai, maka kamu sebagai isteri, akan menderita, setiap saat bermandikan air mata PENYESALAN, selama ini telah hidup bersama dengan suka duka, membesarkan anak dengan susah payah, karena hal-hal NEGATIF yang selalu terlihat melupakan hal yang POSITIF dari suamimu kemudian bercerai dan harus menghadapi segala persoalan sendiri, mengerjakan semua sendiri, kamu akan selalu menyalahkan diri sendiri.

Kamu selalu akan berpikir tentang semua kekuranganmu dan akan MENYESALI perceraian ini, mengapa dahulu tidak mau berubah, mengapa tidak lebih sabar menghadapi istri dan memaafkan semua kesalahannya, mengapa tidak mencoba memperbaiki hubungan ini dan memberikan perhatian yang lebih kepadanya.”

”Kamu sebagai istri, mungkin akan memperoleh kebahagiaan yang baru dengan pilihanmu sendiri, selama belum terjadi masalah baru, maka semua akan terlihat baik-baik saja, benarkah?

Semua kondisi kehidupan memiliki dua sisi positif dan negatif, begitu muncul persoalan-persoalan dalam hidupmu yang baru, apakah kau tetap bahagia?

Apakah tidak akan muncul PENYESALAN? Mengapa telah mengecewakan orang yang kau telah nikahi dan menemanimu selama ini, meninggalkan anak demi kepuasan sesaat, masalah yang sama akan kembali hadir, dan masalahmu akan menjadi bertambah, kekecewaan dan penyesalahan akan muncul di hari tuamu, melihat sikap benci yang terpancar dari anak-anakmu terhadap kamu, Jadi PENYESALAN pasti akan ada.

”Bila aku mencegah kalian untuk tidak BERCERAI, maka PENYESALAN pun akan ada, karena kalian akan pulang sekarang, dan kemudian hari akan terulang semua hal yang sama, dan kalian akan menyalahkan saya karena tidak mencegah kalian untuk bercerai, Kalian tetap tidak akan puas, karena dalam pikiran kalian hanya ada KATA CERAI, tidak ada kata BERUBAH bahkan kata CINTA pun telah lenyap dari pikiran kalian, dan yang pasti kalian tetap hidup dalam KETIDAKPUASAN, dan tidak ada jalan keluarnya”

”PULANGLAH DENGAN BAHAGIA!”

Kesimpulan :
”Kebanyakan orang TIDAK PUAS dengan apa yang telah DIPILIHNYA”

”Ketika kalian memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidup kalian, tentu melewati proses yang tidak mudah, bila semua berjalan baik-baik saja, hidup kalian akan bahagia, tetapi begitu muncul segala macam masalah, maka pikiran yang muncul adalah SEANDAINYA…., SEHARUSNYA…., BILA PADA AWALNYA… semua akan membawa ingatan kalian pada pilihan yang dulu telah tersedia.

Dan kalian akan menyalahkan keadaan, menyalahkan kondisi, menyalahkan diri sendiri. Mengapa memilihnya tidak memilih yang satunya?”

”Sama seperti memilih membeli barang dari tersedianya pilihan, ketika kita mengambil keputusan untuk membelinya, dan kemudian terjadi KETIDAKPUASAN, maka akan segera berpikir seandainya dulu saya memilih yang satunya.”

Padahal bila kita memilih pilihan yang lain itu sendiri, belum tentu juga bahagia, pasti akan kembali terulang hal yang sama, karena pada dasarnya sifat KETIDAKPUASAN itu selalu ada dalam pikiran kita.”

”Yang salah bukan pilihannya, yang salah adalah PIKIRAN dan SIFAT orang yang memilihnya, yang tidak pernah memiliki rasa PUAS dan BERSYUKUR dengan apa yang telah didapatkannya.

Dari pada memilih lagi, lebih baik menjaga apa yang telah ada, merawat yang telah terjalin, dan memperbaiki sesuatu yang perlu diperbaiki.”

”Jadi Pulanglah dengan BAHAGIA, atau Kembalilah bersama-sama membina RUMAH TANGGA YANG BAHAGIA. Saranku CARILAH KEBAHAGIAAN bukan PENDERITAAN.”

Semua kembali pada penilaian masing-masing, kebijaksanaan masing-masing, seorang Master Zen yang hebat sekalipun tidak dapat menentukan kebahagiaan anda, karena anda sendiri yang dapat membuat diri anda BAHAGIA.

Kisah tentang apa yang terjadi di rumah tangga..

Written By Regina Kim on Rabu, 30 Januari 2019 | 18.13

Hasil gambar untuk melamar kerja



Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini..

"Nak,  kalau keluar kamar matikan kipas anginnya.
"
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton

“Simpan pena di tempatnya,  yang jatuh ke kolong meja ”

Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...

“Dalam hati dia berkata: "Begitu  mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.

Ketika hendak pergi untuk interview, ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.. ” Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara..

Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan
masuk menuju kantor.

Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak.
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.

Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. . Dia perlahan menaiki tangga.

Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima?

Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" .
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.

Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong..

Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis..

Sesampainya di depan meja,  pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja?"

Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu?"
Dia bingung.

Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini.
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut..
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon..

Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat  gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu..

Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”

Hatinya terharu, dia ingat ayahnya..
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya. Kini dia  menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orangtuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya..
Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya seketika sirna..

....hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.......

Ayah, ma'afkan anakmu,  bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.

Dia akan minta maaf kpd ayahnya, dia akan ajak ayahnya melihat tempat kerjanya..
Dia pulang ke rumah dengan bahagia..

Apapun yang orangtua katakan pd anaknya,  adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik!

"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat  pahat bekerja memotongnya".

Untuk menjadi pribadi  yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yg dipahat dan dibuang dari diri kita...

Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..

Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya..

Ayah dan ibu adalah pahlawan
yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan..

RENUNGAN :
Perlakukanlah orangtua sebaik-
baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan..

*untuk dibagikan ke orangtua dan anak-anak tercinta..
Semoga bermanfaat

Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?

Gambar terkait



Ibu saya adalah seorang yg sangat baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah krn lambung ayah kurang baik.

Setelah itu, masih hrs memasak nasi untuk anak-anak yg sdg dlm masa pertumbuhan..

Setiap sore, ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun.

Menjelang malam, dgn giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu.

Ibu adalah seorg wanita yg sangat rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yg baik. Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tdk memahaminya...

Ayah saya adalah seorang laki-laki yg bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya wkt unt mengantar kami ke sekolah. Ia seorg ayah yg penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.

Ayah adalah seorang laki-laki yg baik di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yg baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam.

Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dlm perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yg baik. Saya bertanya pada diri sendiri, "Dua orang yang baik mengapa tdk diiringi dgn perkawinan yg bahagia?"

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu..

Di masa awal perkawinan, saya juga sama spt ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah dgn sungguh2 berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dgn giat saya membersihkan rumah dan memasak dgn sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami saya berkata, "temani aku sejenak mendengar alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata, "Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yg belum dipel?"

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul..

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah yg tidak mendapat apa yang dia butuhkan dalam perkawinannya.

Waktu ibu habis untuk membersihkan rumah pdhal yg dibutuhkan ayah adal menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dlm mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yg bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya.

KESADARAN MEMBUAT SAYA MEMBUAT KEPUTUSAN YG SAMA

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku, "Apa yang kau butuhkan?"

"Aku membutuhkanmu unt menemaniku.. rumah kotor sedikit tidak apa-apa.." ujar suamiku.

Saya kira dia perlu rumah yg bersih, ada yang memasak, dst.

"Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja. Begitu juga suamiku, dia menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yg panjang dan jelas, misal: Waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk setiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dstnya.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yg sulit, misal: dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti org bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya, kalau tidak saya hanya mendengarkan dgn serius..

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yg sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dlm pernikahan kami..

Bertanya pada pasangan kita, "Apa yang kau inginkan?" ternyata dpt menghidupkan pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGAN KITA. 

RENUNGAN:
Kita mungkin sangat lelah melayani pasangan kita, namun dia tidak menghargai.. akhirnya kita kecewa dan hancur.SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA, asalkan cara yg kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita! Semoga manfaat..
Lebih baik terlambat menyadari, daripada tidak menyadari sampai akhir.

Setitik Terang di Balik Setiap Kesulitan

Written By Regina Kim on Rabu, 14 November 2018 | 20.20


Gambar terkait

Suatu kala, ada seorang yang cukup terkenal akan kepintarannya dalam membantu orang mengatasi masalah. Meskipun usianya sudah cukup tua, namun kebijaksanaannya luar biasa luas. Karena itulah, orang berbondong-bondong ingin bertemu dengannya dengan harapan agar masalah mereka bisa diselesaikan.

Setiap hari, ada saja orang yang datang bertemu dengannya. Mereka sangat mengharapkan jawaban yang kiranya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dan hebatnya, rata-rata dari mereka puas akan jawaban yang diberikan. Tidak heran, kepiawaiannya dalam mengatasi masalah membuat namanya begitu tersohor.

Suatu hari, seorang pemuda mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar yang bercerita tentang orang tua tersebut. Ia pun menjadi penasaran dan berusaha mencari tahu keberadaannya. Ia juga ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hatinya dan ia masih belum mendapatkan jawaban. Ia berharap mendapatkan jawaban dari orang tua tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan lokasi tempat tinggal orang tua itu, ia bergegas menuju ke sana. Tempat tinggal orang tua tersebut dari luar terlihat sangat luas bagai istana.

Setelah masuk ke dalam rumah, ia akhirnya bertemu dengan orang tua bijaksana tersebut. Ia bertanya, "Apakah Anda orang yang terkenal yang sering dibicarakan orang-orang mampu mengatasi berbagai masalah?"

Orang tua itu menjawab dengan rendah hati, "Ah, orang-orang terlalu melebih-lebihkan. Saya hanya berusaha sebaik mungkin membantu mereka. Ada yang bisa saya bantu, anak muda? Kalau memang memungkinkan, saya akan membantu kamu dengan senang hati."

"Mudah saja. Saya hanya ingin tahu apa rahasia hidup bahagia? Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Jika Anda mampu memberi jawaban yang memuaskan, saya akan memberi hormat dan dua jempol kepada Anda serta menceritakan kehebatan Anda pada orang-orang," balas pemuda itu.

Orang tua itu berkata, "Saya tidak bisa menjawab sekarang."

Pemuda itu merengut, berkata, "Kenapa? Apakah Anda juga tidak tahu jawabannya?"

"Bukan tidak bisa. Saya ada sedikit urusan mendadak," balas orang tua itu. Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan, "Begini saja, kamu tunggu sebentar."

Orang tua itu pergi ke ruangan lain mengambil sesuatu. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah sendok dan sebotol tinta. Sambil menuangkan tinta ke sendok, ia berkata, "Saya ada urusan yang harus diselesaikan. Tidak lama, hanya setengah jam. Selagi menunggu, saya ingin kamu berjalan dan melihat-lihat keindahan rumah dan halaman di luar sambil membawa sendok ini."

"Untuk apa?" tanya pemuda itu dengan penasaran.

"Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja. Saya akan kembali setengah jam lagi," kata orang tua itu seraya menyodorkan sendok pada pemuda itu dan kemudian pergi.

Setengah jam berlalu, dan orang tua bijak itu pun kembali dan segera menemui pemuda itu.

Ia bertanya pada pemuda itu, "Kamu sudah mengelilingi seisi rumah dan halaman di luar?"

Pemuda itu menganggukkan kepala sambil berkata, "Sudah."

Orang tua itu lanjut bertanya, "Kalau begitu, apa yang sudah kamu lihat? Tolong beritahu saya."

Pemuda itu hanya diam tanpa menjawab.

Orang tua itu bertanya lagi, "Kenapa diam? Rumah dan halaman begitu luas, banyak sekali yang bisa dilihat. Apa saja yang telah kamu lihat?"

Pemuda itu mulai bicara, "Saya tidak melihat apa pun. Kalau pun melihat, itu hanya sekilas saja. Saya tidak bisa ingat sepenuhnya."

"Mengapa bisa begitu?" tanya orang tua itu.

Sang pemuda dengan malu menjawab, "Karena saat berjalan, saya terus memperhatikan sendok ini, takut tinta jatuh dan mengotori rumah Anda."

Dengan senyum, orang tua bijak itu berseru, "Nah, itulah jawaban yang kamu cari-cari selama ini. Kamu telah mengorbankan keindahan rumah yang seharusnya bisa kamu nikmati hanya untuk memerhatikan sendok berisi tinta ini. Karena terus mengkhawatirkan tinta ini, kamu tidak sempat melihat rumah dan halaman yang begitu indah. Rumah ini ada begitu banyak patung, ukiran, lukisan, hiasan dan ornamen yang cantik. Begitu juga dengan halaman rumah yang berhiaskan bunga-bunga warna-warni yang bermekaran. Kamu tidak bisa melihatnya karena kamu terus melihat sendok ini."

Ia melanjutkan, "Jika kamu selalu melihat kejelekan di balik tumpukan keindahan, hidup kamu akan dipenuhi penderitaan dan kesengsaraan. Sebaliknya, jika kamu selalu mampu melihat keindahan di balik tumpukan kejelekan, maka hidup kamu akan lebih indah. Itulah rahasia dari kebahagiaan. Apakah sekarang sudah mengerti, anak muda?"

Pemuda itu benar-benar salut atas kebijaksaan dari orang tua itu. Ia sungguh puas dengan jawabannya. Akhirnya ia menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Sebelum pergi, ia menepati janjinya dengan memberi hormat dan dua jempol kepada orang tua tersebut.

RENUNGAN :
Dalam hidup ini, alangkah baiknya kita tidak menjerumuskan diri kita ke dalam keterpurukan. Selalu ada hal positif yang bisa kita ambil. Jangan mengorbankan keindahan hidup hanya untuk melihat sisi jeleknya. Jadilah orang yang senantiasa melihat setitik terang di dalam gelap.

Bahagia Dengan Hati Yang Rusak

Written By Regina Kim on Selasa, 20 September 2016 | 19.42


Alkisah, hiduplah seorang kakek dan seorang pemuda. Pada masa itu, semua manusia bisa memamerkan hatinya, setiap hati bisa diperlihatkan pada orang lain, karena tubuh di bagian dada tidak tertutup daging, sehingga bila pakaian dibuka, hati terlihat, tidak seperti sekarang di mana hati tidak tampak dan harus diperlihatkan dengan suara, tulisan, pandangan dan sentuhan.

Sang kakek dan sang pemuda jelas berbeda umur, berbeda pemikiran dan memiliki hati yang sangat berbeda. Sang kakek yang bekerja sebagai penebang kayu sering tidak memakai pakaian atas karena panasnya cuaca, sehingga hatinya terlihat. Hati sang kakek penuh dengan bekas luka dan berlubang. Hati kakek itu lebih mengerikan daripada keriput pada kulitnya.

Sedangkan sang pemuda yang masih gagah dan tampan, dia sering tidak memakai pakaian atas sebagai bentuk pamer dan kesombongan. Pemuda itu memiliki hati yang bersih, mulus, tanpa cacat sedikitpun. Baginya, hal itu adalah hal yang membanggakan. Dia akan memamerkan pada semua orang yang ditemui mengenai hati yang bersih tanpa satu goresan.

Lalu pada suatu hari, mereka bertemu. Si pemuda tertawa terbahak-bahak dengan angkuh. Dia menepuk dadanya dan sesumbar mengatakan, "Hai, kakek yang malang, coba kau lihat hatiku! Tidak ada cacatnya, aku menjaga dengan baik benda berharga ini. Sedangkan milikmu... Astaga, kau pasti tidak bisa menjaganya dengan baik,"

Sang kakek yang sudah renta itu hanya tersenyum, tidak ada guratan marah di dalam matanya. Dia menatap hatinya yang penuh luka, sangat berbeda dengan milik sang pemuda. Lalu kakek itu berkata, "Wahai pemuda, kenapa kau sangat menjaga hatimu?"

Pemuda sombong itu mengangkat sebelah alisnya, "Tentu saja, karena hati adalah benda yang sangat berharga, seharusnya kau tahu itu," Si kakek menjawab, "Tentu saja aku tahu, wahai anak muda. Aku tahu bahwa hati adalah sesuatu yang berharga. Kenapa dia berharga? Karena selama hidup, kau harus membaginya dengan orang lain,"

Sang pemuda terdiam lama, suara sang kakek yang bijaksana membuatnya berniat untuk mendengarkan kalimat sang kakek hingga habis. "Kau boleh saja sangat menjaga hatimu, tetapi apakah kau bahagia hanya dengan memamerkannya dan tidak membaginya dengan orang lain? Wahai pemuda, aku membiarkan hatiku dilukai orang lain, termasuk wanita. Aku juga memberikan beberapa potong hatiku untuk orang lain, bahkan orang-orang yang tidak aku kenal, dan aku bahagia karenanya, karena hatiku bisa membahagiakan orang lain. Sekalipun hatiku penuh luka dan berlubang, itulah hati yang seharusnya kau bagi dengan orang lain,"

Sang pemuda akhirnya menyadari bahwa makna dari hati adalah untuk dibagikan dengan orang lain, sekalipun hatinya harus rusak dan berlubang. Akhirnya dia mencongkel sedikit bagian hatinya dan diberikan untuk sang kakek untuk menambal sedikit bagian yang berlubang. Sang kakek berterima kasih atas pemberian itu. Dan sang pemuda, sejak hari itu mulai membagi hatinya pada orang lain. Tidak hanya itu, ada beberapa orang yang menambal hatinya yang berlubang. Dia berbahagia karena hal itu.

RENUNGAN :Tidak selamanya Anda harus meratapi hati Anda yang terluka, patah, atau hancur. Percayalah, akan ada orang lain yang bisa menambal hati Anda. Berbahagialah karena Anda telah berani membagikan hati Anda pada orang lain.

PERAMPOKAN YANG DIBALAS DENGAN KARMA

Written By Regina Kim on Kamis, 25 Agustus 2016 | 20.25


Satu ketika ada 1 keluarga yang kaya raya dan suka berdana, walau hubungan mereka baik dgn org sekitar, kekayaan mereka yang berlimpah tetap menarik perhatian bagi sebagian orang yg iri hati pada kekayaan mereka.

Satu ketika kumpulan orang-orang iri hati ini berkomplot menyusun rencana merampok keluarga kaya tersebut. Mereka berhasil membujuk seorang pekerja rumah tangga untuk bersedia memberi mereka akses masuk untuk memuluskan aksi mereka merampok.

Di hari yang di tentukan, perampokanpun terjadi. Saat mereka telah mengambil semua harta benda dan barang2 berharga, mereka sepakat untuk membunuh semua anggota keluarga kaya ini, kemudian membakar rumah mereka untuk menghilangkan barang bukti. Namun terdapat 1 perampok keberatan dengan ide itu.

"Tidak perlu membunuh mereka sekeluarga, bukankah kita hanya ingin hartanya saja?"

Namun karena ia sendirian, suaranya tidak di dengar. Komplotan perampok lebih setuju dengan rencana pembunuhan untuk menghilangkan barang bukti.

Pembunuhanpun terjadi, semua anggota keluarga tersebut mati tidak bersisa. Kemudian mayat mereka diguyur minyak tanah dan dibakar bersama rumah yang telah kosong dirampok.

Si perampok yang keberatan membunuh, pergi dengan pembagian hasil rampokannya tanpa ikut membunuh.

Kejadian ini diketahui masyarakat sekitar sebagai musibah kebakaran saja, tidak ada bukti dan saksi yang mengarahkan ke kejadian perampokan dan pembunuhan yang sebenarnya. Dan komplotan perampok tersebut melanjutkan hidup mereka dengan menikmati hasil rampokannya. The end.

Bertahun2 kemudian, pada kehidupan yang berbeda, sebuah mini bus yang mengangkut serombongan kecil turis mengalami sebuah kecelakaan. Beritanya tersebar sampai ke seluruh negeri karena terdapat kejadian aneh dari kecelakaan tsb.

Mini bus tersebut menabrak sebuah becak yang mengangkut minyak tanah di area jalan perbukitan dan MELEDAK! Si penarik becak meninggal terbakar, seisi bus juga meninggal terbakar. Tapi supir busnya selamat.

Supir bus tersebut mengalami luka bakar yang cukup parah, tapi ia bertahan hidup.

Orang2 bertanya2, bagaimana bisa si supir yang duduk di bagian depan bisa bertahan hidup sementara orang2 yang ia bawa dalam bus tidak ada yang selamat dari kecelakaan tersebut? Bukankah itu keajaiban?

Kisah ini banyak diperbincangkan dan di bahas dalam artikel2 yg dimuat di koran. Ternyata si tukang becak sedang tergesa-gesa mengantarkan minyak tanah pesanan tuan tanah setempat, sementara mini bus datang dari arah berlawanan jalan menikung, sehingga tabrakanpun terjadi. Minyak tanah yang terhambur menyebabkan sedikit percikan api jadi bencana ledakan berakibat kematian masal.

Tapi bagaimana bisa si supirnya selamat? Semua orang menerka-nerka dan berspekulasi, saking penasarannya sampai-sampai "orang pintar" dimintai keterangan...

Dan terungkaplah hutang piutang mereka di kehidupan lampau...

*Si tukang becak adalah pembantu rumah tangga yang memberi akses pada kawanan perampok sehingga mereka berhasil menjalankan aksinya,
*tuan tanah yang memesan minyak tanah adalah keluarga kaya korban perampokan dan pembunuhan,
*Sekelompok turis yang mati terbakar dalam mini bus adalah kawanan perampok yang membunuh dan membakar keluarga kaya, dan si supir bus yang selamat adalah perampok yang menolak melakukan pembunuhan pada keluarga kaya tersebut*.

Semua benar-benar mendapat "bagian-bagiannya masing-masing.

RENUNGAN :

Si keluarga kaya korban perampokan TIDAK (perlu/sedang) berupaya membalas dendam pada pembunuh mereka. Di kehidupan ini mereka 'hanya' sedang memesan sejumlah besar minyak tanah untuk keperluan bisnis mereka yang sialnya menyebabkan kecelakaan yang menewaskan banyak orang.

Tapi karma pembalasannya tetap berjalan...

Jadi teman, setelah membaca kisah ini, MARI KITA MELANJUTKAN HIDUP KITA DENGAN PENUH SUKA CITA DAN HATI RIANG, tidak perlu repot membuang waktu, pikiran dan tenaga 'membalas' perlakuan buruk dari orang-orang iseng di sekitar anda. karena CEPAT/ LAMBAT mereka akan memetik hasilnya.

*BERFOKUSLAH UNTUK TERUS MENANAM KARMA BAIK, dan gapailah segala sukacita hidup!* SEMANGAT! \^o^/

*Boleh percaya, boleh enggak, kisah ini 'base from true story'.*

Kisah Belajar dari si Renta Bungkuk yang Tak Meminta

Written By Regina Kim on Senin, 25 Juli 2016 | 23.42


Mencoba membuka kembali ingatan beberapa waktu yang silam. Berturut-turut dipertemukan dengan penjual sayur keliling di ramainya lalu lalang kendaraan. Mungkin biasa saja dengan jenis pekerjaannya, tapi yang menjadi pusat perhatian yang menyebabkan mataku tak berkedip atau memalingkan kepalaku ke arah lain adalah kondisi si penjual sayur.

Di tiga hari pertama, hanya bisa melihatnya saja sepanjang motorku melewatinya sambil sesekali memerhatikan bagaimana kondisinya. Selang beberapa hari berikutnya, ada keinginan hati untuk memberhentikan laju motorku dan diam di pinggir jalan sembari menunggunya lewat ke hadapanku. Setelah dia mendekat, semakin jelas terlihat keadaannya, mengkhawatirkan.

Tergerak seketika, teman kerjaku mengepalkan lembaran uang sepuluh ribuan untuknya, bukan sekedar karena merasa iba atas kondisinya, tapi semangatnya di saat dia renta dan tak lagi tegak untuk berdiri, di saat jalannya yang tak lagi lancar tapi terpapah-papah, tidak lantas menjadikan dia dengan mudahnya menengadahkan tangan hanya untuk meminta belas kasihan orang dengan meminta-minta.

Jalanan panjang dia susuri di teriknya siang, tak mempedulikan bunyi klakson motor karena merasa terhalangi oleh lambatnya dia berjalan. Berjalan terus mencari orang yang mau membeli barang dagangannya sembari sesekali menyeka keringatnya, begitu mengkhawatirkan.

Tapi di sisi lain, ada banyak orang yang begitu mudah meminta-minta belas kasihan orang dengan cara-cara yang tidak baik. Segala cara dilakukan meskipun itu merendahkan dirinya sendiri demi mendapatkan uang, padahal kondisi fisik mereka pun sehat dan kuat.

RENUNGAN :
Ada banyak "pesan"-Nya yang bisa kita ambil dari pertemuan tak sengaja ini. Boleh jadi kita yang kuat untuk berdiri tegak hanya mempergunakan waktu dengan bermalas-malasan saja, kita yang bekerja di tempat yang nyaman tidak memberikan kotribusi terbaik untuk masyarakat banyak. Kita yang sehat, kuat dan difasilitasi barang-barang yang agak 'wah' terkadang lupa untuk bersyukur, meski sekadar mengingat mereka di luar sana yang kekurangan, pun sekedar ber-perceptual position dengan menjadikan diri kita adalah mereka, agar kita tahu bahwa kita masih hidup dalam kelayakan.

Lihat, dengar dan rasakanlah. Perjalananku mungkin hanya sekedar perjalanan biasa, tapi yakini di setiap perjalanan manusia akan selalu ada "pesan" yang harus kita cari. Semoga tak menjadi sebuah kesalahan ketika ku tulis ulang apa yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasa. Bacalah, semoga ada hikmah untuk perjalanan kita selanjutnya.

Kisah Sang Istri Bungkuk yang Setia Menuntun Suaminya yang Tuna Netra


Seperti yang dilansir dari shanghaist.com, bahwa sepasang suami istri yang berada di Guangxi China ini menunjukan arti cinta sejati dan cinta yang tulus. Meskipun kita tahu keduanya diselimuti oleh cobaan hidup yang berat dan kekurangan yang ada pada diri masing-masing tetapi pasangan yang bernama Huang Funeng yang kini berusia 80 tahun dan istrinya Wei Guiyi berusia 76 tahun tersebut tetap setiap dan tulus menerima apapun serta bagaimana pun kondisi pasangannya masing-masing.

Diketahui mereka berdua sudah menikah kurang lebih 55 tahun. Dalam waktu yang tidak singkat tersebut mereka berdua selalu hidup berdampingan dan bahagia. Mereka berdua selalu mengisi kekosongan masing-masing dan berusaha untuk memberikan semua yang terbaik untuk pasangannnya.

Hingga suatu ketika tepatnya pada 1985 keadaan yang mengkhawatirkan menimpa keduanya, dimana Huang sang suami menderita sakit mata yang menyebabkan dirinya mengalami kebutaan. Sedangkan istrinya Wei mengalami osteoporosis hingga membuat tubuhnya tidak normal dimana tubuhnya tersebut menjadi bungkuk. Namun, meskipun begitu Wei tetap bersyukur karena ia masih bisa berjalan dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
Meskipun Sama-Sama Memiliki Kekurangan Tetapi Mereka Saling Membantu dan Saling Menyempurnakan

Meskipun keduanya tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangan, tetapi mereka tidak pernah mengeluh akan kondisi dirinya sendiri ataupun kondisi pasangannya. Sebagai bentuk pengabdian kepada suaminya sang istri setiap harinya selalu menuntun sang suami yang buta ketika mereka hendak pergi kemanapun. Sang istri yang sudah berumur tidak muda tersebut menuntun suaminya dengan menggunakan tongkat.
Pasangan yang sangat menginspirasi ini sendiri menikah sejak 55 tahun dimana sejak usianya 20 tahun dan 24 tahun. Tetapi yang paling menyedihkan, meskipun mereka sudah lama menikah tetapi mereka tidak dikarunia seorang anak pun, sehingga ketika keduanya sudah tua mereka harus bertahan hidup sendiri dan mengurus diri mereka sendiri tanpa ada seorang anak atau keluargapun di sisinya. Namun meskipun begitu pasangan ini tetap saling mencintai dan menyayangi dengan tulus.

Huang Funeng pernah mengatakan bahwa meskipun kini dirinya tidak bisa melihat tetapi dirinya selalu bisa melihat bayangan istrinya. Istrinya tersebut adalah orang yang paling istimewa dan ia cintai. Sedangkan sang itsri pun mengatakan, bahwa mereka berdua sangat senang dengan kehidupan mereka saat ini. Apapun dan bagaimapaun kondisi keduanya tetapi sang itsri mengatakan bahwa mereka akan selalu ada di sisi satu sama lain. Sejak beberapa foto keduanya ini beredar di media sosial, maka saat itu jugalah ke duanya menjadi inspirasi semua orang terlebih lagi bagi setiap pasangan agar bisa menyadari bahwa cinta yang tulus dan cinta sejati itu seperti apa.

RENUNGAN :
Nah, sahabat di tengah kasus-kasus perceraian yang selalu kita saksikan entah itu di media sosial ataupun televisi dan kasus perselingkuhan yang semakin hari semakin marak. Maka dengan adanya kisah yang suci dari keduanya ini setidaknya kita bisa belajar banyak bahwa betapa indahnya saling menerima dan memberi bersama orang yang kita sayangi.

Janganlah pernah menuntut pasangan kita untuk selalu sempurna dan janganlah pernah kesempuraan menjadi penghambat cinta tulus yang kita miliki. Semoga kita semua mendapatkan pasangan yang bisa tulus mencintai kita apa adanya, dan kita do’akan semoga Huang Funeng dan Wei Guiyi selalu disatukan dan mendapatkan kebahagiaan.

KISAH ANAK-ANAK BURUNG GAGAK & SEBUAH SUMUR


Tahun ini, musim kemarau sangat panjang. Tumbuhan mulai mengering, sungai-sungai kehilangan aliran airnya, mata air kering dan air sumur menyusut. Beberapa binatang bahkan mati akibat suhu panas dan haus. Semua hewan dan tumbuhan selalu berdoa atas hujan yang hadir dan memberi kehidupan pada mereka.
Keadaan yang tidak menguntungkan ini membuat seorang ibu gagak mengajak anak-anaknya yang berjumlah 8 orang untuk migrasi ke daerah yang lebih sejuk dan memiliki persediaan air yang cukup. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya mereka berangkat ke daerah lain bersama-sama.
Rasa lelah dan haus menerpa keluarga gagak ini, akhirnya mereka beristirahat di sebuah rumah petani yang sudah ditinggalkan penghuninya. Mereka semua sangat kehausan. Hal ini menimbulkan pertengkaran akibat emosi, ditambah lagi terpaan matahari yang panas. Bahkan ibu gagak tidak bisa mendiamkan mereka.
Gagak paling kecil menghindari keributan saudara-saudaranya, dia bersedih karena pertengkaran itu. Akhirnya dia terbang mengitari rumah dan mencari siapa tahu ada persediaan air yang tersisa. Si gagak kecil akhirnya berhasil menemukan sebuah kendi di belakang rumah petani. Kendi itu berisi sedikit sekali air di dasarnya.
Si kecil memanggil ibu dan saudara-saudaranya. Rasanya percuma bila ada kendi berisi air yang sangat sedikit. Mereka tidak bisa mencapai dasar kendi, pada gagak perlu tempat berpijak saat minum, jika tidak, mereka bisa tercebur ke air dan mati. Tidak ada satupun yang berani masuk ke dalam kendi untuk minum.
Si gagak kecil tidak kehabisan akal, dia melihat tumpukan kerikil di luar rumah petani. Akhirnya dia terbang dan memasukkan kerikil itu ke dalam kendi. Saudara-saudaranya yang lain tidak tahu apa yang sedang dilakukan si gagak kecil dengan memasukkan kerikil ke dalam kendi.
Akhirnya sang ibu gagak mengerti, anak bungsunya memasukkan kerikil agar air yang ada di dasar kendi naik ke permukaan, sehingga mereka semua bisa minum dengan berpijak pada bibir kendi. Sang ibu meminta agar semua anaknya membantu si bungsu memasukkan kerikil.
Dengan kesabaran dan kerjasama, akhirnya air di dasar kendi naik ke permukaan. Mereka semua bergantian meminum air itu tanpa khawatir tercebur ke dalam air. Semua gagak memuji ide sang gagak kecil. Dan akhirnya, setelah melegakan tenggorokan, keluarga gagak itu terbang dan sampai di daerah yang lebih subur dan banyak hujan.
RENUNGAN : Anda bisa belajar bahwa masalah tidak akan selesai dengan bertengkar. Yang bisa Anda lakukan adalah berpikir dalam ketenangan bagaimana menyelesaikan masalah itu. Kesabaran dan kerjasama juga menjadi kunci penting akan sebuah keberhasilan.

KISAH BONEKA ANJING KECIL

Written By Regina Kim on Jumat, 31 Juli 2015 | 00.33



Boneka anjing kecil itu memang sungguh lucu dan menggemaskan. Dengan dibekali dua baterai di dalamnya, ia bisa bergerak ke depan dan ke belakang sambil mengeluarkan suara yang rada unik. Lehernya yang fleksibel, bisa bergerak manggut manggut dan matanya yang dapat bersinar sinar seiring dengan suara dan gerakannya membuat ia menjadi mainan yang sangat disukai Shanza yang masih berumur hampir empat bulan itu. Harganya pun terbilang sangat murah. Hanya dengan uang satu lembar lima puluh ribuan Rupiah, kita sudah dapat membawa pulang mainan tersebut sampai ke rumah.

Sebenarnya boneka anjing kecil itu bukanlah satu satunya barang jualan yang dijajakan di lantai dasar sebuah mall di Jakarta Selatan tersebut. Ada banyak mainan mainan lain, di antaranya adalah boneka kelinci yang berdiri dan dapat menggerak gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan lucunya sambil diiringi suara suara yang unik juga. Dua jenis mainan ini nampaknya menjadi primadona bagi Shanza sampai sampai ia tidak mau berhenti memandangi boneka yang bergerak gerak tersebut. Dan kami pun menjadi tertarik untuk membeli dan membawa boneka anjing tersebut ke rumah.

Sesampai di rumah, walaupun dalam suasana capek dan sudah lumayan malam, boneka anjing kembali dimainkan. Kontan, suasana rumah seakan menjadi heboh dan larut dalam kegembiraan melihat mimik muka Shanza yang tersenyum-senyum dan memandangi boneka tersebut dengan rasa aneh dan seperti penasaran. Kami sekeluarga tidak henti hentinya menertawakan setiap kejadian yang lucu dan langka tersebut. Tawa semakin pecah ketika Shanza menendang boneka yang berjalan menghampiri kakinya sampai sampai boneka tersebut terguling tidak berdaya. Saking senangnya sampai sampai kami tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukan pukul 21.30.

RENUNGAN :
Kisah tadi adalah sekelumit contoh bahwa untuk menjadi bahagia, kita sebenarnya tidak perlu menunggu suatu momentum yang khusus dan besar seperti mendapat hadiah undian, kenaikan gaji, pangkat, jabatan, atau ketika berhasil memiliki rumah baru, mobil baru, atau pencapaian pencapaian lainnya. Sejatinya setiap orang dapat menjadi bahagia kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Namun demikian, seringkali kita sendirilah yang menjadikan kondisi-kondisi yang sedang kita alami sebagai penghalang menggapai kebahagiaan tersebut. Status rumah yangmasih ngontrak lah, rumah masih sempit lah, masih pegawai rendahan lah, penghasilan kecil pas pasan lah, belum punya mobil lah, belum memiliki anak lah, anak-anak masih pada bandel lah, gaji tidak naik naik lah, jabatan tidak dipromosi lah, dan banyak kondisi kondisi lain yang seolah olah menjadi penghalang untuk menjadi bahagia. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal di atas adalah sangat penting bagi setiap orang, namun menjadikannya sebagai penghalang kebahagiaan adalah sikap yang kurang tepat.

Keputusan untuk menjadi bahagia sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Seperti apa yang disampaikan oleh Benjamin Franklin di atas, bahwa kebahagiaan sangat tergantung dari pengaturan-pengaturan di dalam batin/pikiran kita dan bukan tergantung dari hal hal di luar kita. Jadi sekali lagi, putuskanlah untuk menjadi bahagia sekarang juga. Perbanyaklah "mainan mainan kebahagiaan" di dalam diri dan keluarga kita yang membuat kita senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan. Dan untuk menjadi orang yang bersyukur dan bahagia, fokuslah pada apa saja yang sudah kita miliki, bukan pada apa apa yang belum kita miliki.

KISAH SEEKOR ANAK ANJING YANG CACAT

Written By Regina Kim on Kamis, 25 September 2014 | 01.55


Sebuah toko hewan peliharaan (pet shop) memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak: "Dijual anak anjing." Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya, "Berapa harga anak anjing yang Anda jual itu?"

Pemilik toko menjawab, "Harganya berkisar antara 30 - 50 dolar."

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Wah. Aku hanya mempunyai 23,5 dolar. Hmmm, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang dijual?"

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama, dari ruangan dalam toko, muncullah lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling belakang dan tampak cacat itu. Tanyanya, "Kenapa dengan anak anjing itu?" Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing yang cacat itu."

Pemilik toko itu segera menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu! Tapi jika kamu ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu."

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,"Aku tak mau Bapak memberikan anak anjing itu secara cuma-cuma padaku. Meski cacat, anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 23,5 dolar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 dolar sampai lunas."

Tetapi penjual itu tetap menolak. Katanya, "Nak, kamu jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari dengan cepat. Dia juga tidak bisa melompat dan bermain sebagaimana anak anjing lainnya."

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu, tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Pak, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu memerlukan seseorang yang mau mengerti penderitaannya. "

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata haru menetes dar sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata,"Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik kamu, Nak."

RENUNGAN:....Nilai kemuliaan hidup tidak terletak pada status ataupun kelebihan yang kita miliki, melainkan pada apa yang kita lakukan berdasarkan pada hati nurani yang bisa mengerti dan menerima kekurangan.

Keindahan fisik bukanlah jaminan keindahan batin. Setuju kan?

MUSIM KEMARAU VS MUSIM HUJAN


Saat itu cuaca di kotaku sangat cerah.Tetapi, meskipun cerah ada ganjalan di hatiku, dan ada pertanyaan : Kenapa tidak turun hujan aja sih? Berikut dengan serentetan keluhan, yang kenapa kok sepertinya mengacu kepada pemenuhan diriku saja ?

Bajuku pasti akan memiliki bau yang tidak sedap, begitupun mukaku akan kusam karena udara yang sumpek ini. Bagaimana nanti aku mau bertemu dengan handai taulan? Malulah aku… Sekejap muncul ide dan upaya untuk berusaha menjauhkan badan dan bajuku dari bau tidak sedap. Pakai parfum, pakai mobil agar tidak keringatan, minta pendapat orang lain mengenai penampilan & "konfirmasi" bau tidak sedap di tubuhku, dll, yang semuanya pokoknya mengacu kepada saya… saya….dan saya…..
Belum lagi karena udara cerah ini, pastilah akan sering dahaga tenggorokanku.

Persiapan membawa air putih agar jika di jalan nanti saya ngelak, begitu kata Orang Jawa bilang, kiranya boleh juga ya, tapi kok air putih ?

Hhmm… rasanya kok belum afdol ya kalau tidak yang dingin2 plus soda karbonasi ? Pastilah lebih sedap ketimbang hanya sebotol air putih, yang sudah sangat mudah ditemui dan rasanya biasa - biasa saja. Saya mau yang beda dan lebih menyegarkan.
Kan kalau yang berkarbornasi bisa nambah gaul juga ?
Kira - kira seperti itulah bekalku ketika kakiku akan meninggalkan rumahku…

Setelah di jalan, hhmm.. karena udara yang sangat panas ini, yang biasa AC kendaraan ini dingin, sekonyong - konyong menjadi tidak berasa dinginnya.
Masih dingin, tetapi kualitasnya jauh berkurang. Aku bergumam, " kenapa pula ini ? Gara - gara udara pastinya, sekarang ACku menjadi seperti ini". Sungguh tidak bersahabat cuaca hari ini !!
Mengeluh sepanjang hari.
Dan karena itulah, maka : Lupa untuk menyapa tetangga depan, kiri dan kanan yang padahal selalu menyapu halamannya setiap pagi, yang juga sebenarnya menunggu teguran dan sapaan.

Lupa akan begitu indahnya senyuman sang istri dan buah hati yang disertai lambaian tangan dan seruan "Hati - Hati ya di jalan… "
Lupa juga kalau hidangan sedap yang telah aku santap di meja makan adalah hasil karya racikan bumbu - bumbu istriku.
Yaaa, lupa untuk menikmati segala KEINDAHAN di pagi hari itu.
Seiring berjalannya waktu…
Musim hujanpun tiba.
Gemuruh petir disertai kilat menyambar - nyambar.
Sang mentari kian tersipu malu terhalang awan hitam cumulonimbus.

Nyanyian burung pagi, terhalau oleh derasnya hujan yang jatuh di seng rumahku.
Pakaian yang siap untuk disetrika semakin hari semakin sedikit antriannya, tetapi justru menumpuk di jemuranku.
Menyertai ini semua, udara dinginpun menyelimuti tubuhku.
Menggigil sehabis mandi pagi, itulah yang aku rasakan.
Teh hangat manis semenjak musim yang baru datang ini, semakin cocok kiranya dihidangkan setiap pagi.

Semua ini menyusul kekuatiran akan bagaimana nanti di jalan ? apalagi 2 - 3 hari hujan tidak kunjung selesai.
Pastilah macet dimana - mana, stress melanda banyak orang, belum lagi kecemasan kalau - kalau kendaraan trouble di tengah jalan.

Sambil di jalan, otomatis teringat akan jemuranku yang pun belum kering juga.
Serba salah… ya serba salah…..
Mengeluh… ya mengeluh…..
Cerah salah… Hujanpun salah…
Lalu ?????

Apakah memang ini yang telah bersenyawa di banyak orang, terlebih sang penghuni metropolitan?
Sungguhlah berbahagia wahai mereka yang mampu bersyukur di tengah cuaca cerah maupun hujan ?
Yang mampu menikmati betapa indahnya segala yang ada yang telah disajikan olehNya
Sinar matahari yang menusuk,sangatlah baik bagi pertumbuhan tulang, apalagi si bayi yang sedang butuh - butuhnya asupan Vitamin D.
Udara panas yang senantiasa mengeringkan jemuran setiap hari, sehingga bisa ganti baju setiap hari bahkan 2 - 3 kali sehari.
Terik matahari yang terserap oleh klorofil - klorofil untuk wahai para tanaman untuk dapat bertumbuh dan beregenerasi.

Cuaca yang cerah yang mengantarkan wahai anak - anak untuk dapat bermain layangan sembari berteriak dan cemberut karena perkara menang dan kalah dalam beradu.

Dan…beragam aktivitas lain yang tentunya SUNGGUH MENYENANGKAN.

Memang sudah aturan alam, jika :
Ada panas, ada dingin.
Ada tinggi, ada pendek.
Ada baik, ada jahat
Ada hitam, ada putih
Ada terang, ada gelap.
Dst...

Maka begitulah hujanpun mengguyur setelah terik Sang Mentari beranjangsana setiap pagi, siang, sore di bulan - bulan musim kemarau.
Dingin menyambut, kabutpun hadir di sela - sela rintik - rintik hujan pagi hari.
Sang Jago agak malu meneriakkan yel - yel "kokopetok"nya, tetapi tetaplah ia konsisten membangunkan setiap orang untuk mau bangun pagi.
Di kala tidur malam, AC tidak perlu dinyalakan karena sejuknya udara.
Bahkan di kala banjirpun,
Setiap orang yang sebelumnya saling tidak tegur sapa dan begitu kental "sayaisme"nya, saat inilah setiap orang saling peduli, saling Bantu, gotong royong, bertoleransi, berperasaan sejajar dengan yang lain, dst…

Di setiap waktu dan tempat adalah suatu KEINDAHAN
Jika mampu BERSYUKUR atas segala yang telah diberikanNya
Dan senantiasa berpikir POSITIF atas apa yang terjadi, baik yang dalam kendali ataupun di luar kendali.
Kemarau ataupun Hujan ???
Semua SAMA.
Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk.
Semua adalah semata - mata berdasar atas sikap dan cara pandang kita sebagai INSAN
Masih MAU BERUBAH dan BERSYUKURKAH kita ?

KISAH TENTANG TOLONG MENOLONG


Suatu hari, saya kedatangan seorang teman sekampung beserta istrinya.Keduanya cacat fisik yakni tuna rungu. Dengan komunikasi yang 'seadanya dan sebisanya', saya mendapat informasi bahwa mereka berpenghasilan dari menjual bubur ayam di kantin sekolah tempat anak mereka bersekolah. Beberapa kali kunjungan ke rumah, saya tahu, betapa sulit kehidupan yang harus mereka lalui.

Atas persetujuan suami, kami memutuskan dalam satu tahun ini , dan ternyata berlanjut ke tahun-tahun berikutnya, untuk membantu mereka secara kontinyu sekarung beras 50 kg setiap bulan, selain bisa untuk berjualan bubur, juga untuk makan mereka. Bila persediaan beras menipis, mereka mengirim pesan melalui sms ke HP saya.

Saat seorang saudara membutuhkan bantuan karena usahanya sedang terkena imbas pesaing, setelah mendapat persetujuan dari suami, kami pun mengucurkan dana membantu. Dan ini bukan untuk yang pertama kali.

Bila ada teman atau kerabat atau karyawan mengalami kesusahan, mereka datang ke kami dan meminta bantuan karena menganggap kami orang baik, mampu, bijak, dan bisa diandalkan untuk mendapatkan bantuan.

Meski ada teori yang menyatakan, adalah lebih baik tangan berada di atas, banyak membantu, dari pada meminta bantuan. Benar! Tidak salah sedikit pun!

Tetapi sesungguhnya, jujur saja, sebagai manusia normal yang sering menghadapi urusan begini, saat paling mendebarkan adalah pergumulan batin di detik-detik genting harus memutuskan: haruskah saya bantu orang ini? Pantaskan dibantu? Jangan-jangan, dengan bantuan kita malahan akan merusak mental mereka? Jangan sampai niatnya membantu malah mencelakakan orang, pastilah menyesal di kemudian hari.

Saat niat akan memberi bantuan telah diputuskan, setelah dipikirkan dengan seksama dari berbagai sudut, ulurkan tangan dengan perasaan bahagia. Iringi dengan doa, semoga bermanfaat positif untuk semua pihak.

Jangan kotori perbuatan baik yang telah kita lakukan dengan mengeluarkan kata-kata kasar bahkan kemudian diliputi kebencian bila ternyata bantuan yang kita berikan tidak sesuai dengan kenyataan indah yang kita inginkan. Istilah yang sering saya pakai, kalau mau bantu orang, tutup mata, tutup telinga, tutup mulut, buka hati!.

RENUNGAN : Dalam kisah tolong menolong antar manusia, ada sebuah kata indah yang perlu kita cermati, yakni: TULUS! Tulus adalah pemberi yang bersifat netral karena, Orang yang tulus tidak pernah menyesal dalam berbuat baik! Dan perbuatan baik selalu bertujuan untuk mendatangkan kebahagiaan!

KISAH KENTANG BUSUK


Pada sebuah sekolah, seorang guru mengajarkan sesuatu pada murid-muridnya. Beliau meminta agar para murid membawa sebuah kantong plastik besar dan mengisinya dengan kentang. Kentang-kentang itu mewakili setiap orang yang pernah menyakiti hati mereka dan belum dimaafkan. Setiap kentang yang dibawa, dituliskan sebuah nama orang yang pernah menyakiti hati murid-murid itu.

Beberapa murid memasukkan sedikit kentang, sebagian membawa cukup banyak. Para murid harus membawa kentang dalam kantong itu kemanapun mereka pergi. Menemani mereka belajar, dibawa pulang, dibawa lagi ke sekolah, diletakkan di samping bantal mereka saat tidur, pokoknya, kentang dalam kantong itu tidak boleh jauh dari mereka.

Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.

"Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang itu?" tanya sang guru.

Para murid tampaknya sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama yang telah memaafkan mereka.

"Jika demikian, kalian tetap harus membawa kentang itu kemanapun kalian pergi,"

Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan kentang-kentang itu semakin membusuk. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Akhirnya, mereka membuang kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit kentang.

"Nah, para murid, dendam yang kalian tanam sama seperti kentang-kentang itu. Semakin banyak kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Semakin hari, dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian," ujar sang guru sambil tersenyum.

Para murid hanya terdiam, meresapi setiap perkataan guru mereka.

"Karena itu, sekalipun kalian menyimpan dendam pada orang lain, atau mereka pernah menyakiti hati kalian, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan, jadikan hal itu sebagai pembelajaran dalam hidup kalian. Dendam sama seperti kentang-kentang busuk itu, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah,"

Para murid tersenyum. Sejak hari itu, mereka belajar untuk menjadi manusia yang pemaaf dan tidak mudah menyimpan dendam. Hidup mereka tenang tanpa terbebani bau busuk yang akan merusak pikiran dan tubuh.

RENUNGAN: kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi manusia yang pemaaf. Sekalipun dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, tetapi secara mental akan melemahkan langkah Anda, membuat hidup Anda tidak nyaman. Maafkanlah mereka yang pernah menyakiti Anda dan hirup udara segar kebebasan.

KISAH SETITIK TERANG DIBALIK SETIAP KESULITAN


Suatu kala, ada seorang yang cukup terkenal akan kepintarannya dalam membantu orang mengatasi masalah. Meskipun usianya sudah cukup tua, namun kebijaksanaannya luar biasa luas. Karena itulah, orang berbondong-bondong ingin bertemu dengannya dengan harapan agar masalah mereka bisa diselesaikan.

Setiap hari, ada saja orang yang datang bertemu dengannya. Mereka sangat mengharapkan jawaban yang kiranya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dan hebatnya, rata-rata dari mereka puas akan jawaban yang diberikan. Tidak heran, kepiawaiannya dalam mengatasi masalah membuat namanya begitu tersohor.

Suatu hari, seorang pemuda mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar yang bercerita tentang orang tua tersebut. Ia pun menjadi penasaran dan berusaha mencari tahu keberadaannya. Ia juga ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hatinya dan ia masih belum mendapatkan jawaban. Ia berharap mendapatkan jawaban dari orang tua tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan lokasi tempat tinggal orang tua itu, ia bergegas menuju ke sana. Tempat tinggal orang tua tersebut dari luar terlihat sangat luas bagai istana.

Setelah masuk ke dalam rumah, ia akhirnya bertemu dengan orang tua bijaksana tersebut. Ia bertanya, "Apakah Anda orang yang terkenal yang sering dibicarakan orang-orang mampu mengatasi berbagai masalah?"

Orang tua itu menjawab dengan rendah hati, "Ah, orang-orang terlalu melebih-lebihkan. Saya hanya berusaha sebaik mungkin membantu mereka. Ada yang bisa saya bantu, anak muda? Kalau memang memungkinkan, saya akan membantu kamu dengan senang hati."

"Mudah saja. Saya hanya ingin tahu apa rahasia hidup bahagia? Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Jika Anda mampu memberi jawaban yang memuaskan, saya akan memberi hormat dan dua jempol kepada Anda serta menceritakan kehebatan Anda pada orang-orang," balas pemuda itu.

Orang tua itu berkata, "Saya tidak bisa menjawab sekarang."

Pemuda itu merengut, berkata, "Kenapa? Apakah Anda juga tidak tahu jawabannya?"

"Bukan tidak bisa. Saya ada sedikit urusan mendadak," balas orang tua itu. Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan, "Begini saja, kamu tunggu sebentar."

Orang tua itu pergi ke ruangan lain mengambil sesuatu. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah sendok dan sebotol tinta. Sambil menuangkan tinta ke sendok, ia berkata, "Saya ada urusan yang harus diselesaikan. Tidak lama, hanya setengah jam. Selagi menunggu, saya ingin kamu berjalan dan melihat-lihat keindahan rumah dan halaman di luar sambil membawa sendok ini."

"Untuk apa?" tanya pemuda itu dengan penasaran.

"Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja. Saya akan kembali setengah jam lagi," kata orang tua itu seraya menyodorkan sendok pada pemuda itu dan kemudian pergi.

Setengah jam berlalu, dan orang tua bijak itu pun kembali dan segera menemui pemuda itu.

Ia bertanya pada pemuda itu, "Kamu sudah mengelilingi seisi rumah dan halaman di luar?"

Pemuda itu menganggukkan kepala sambil berkata, "Sudah."

Orang tua itu lanjut bertanya, "Kalau begitu, apa yang sudah kamu lihat? Tolong beritahu saya."

Pemuda itu hanya diam tanpa menjawab.

Orang tua itu bertanya lagi, "Kenapa diam? Rumah dan halaman begitu luas, banyak sekali yang bisa dilihat. Apa saja yang telah kamu lihat?"

Pemuda itu mulai bicara, "Saya tidak melihat apa pun. Kalau pun melihat, itu hanya sekilas saja. Saya tidak bisa ingat sepenuhnya."

"Mengapa bisa begitu?" tanya orang tua itu.

Sang pemuda dengan malu menjawab, "Karena saat berjalan, saya terus memperhatikan sendok ini, takut tinta jatuh dan mengotori rumah Anda."

Dengan senyum, orang tua bijak itu berseru, "Nah, itulah jawaban yang kamu cari-cari selama ini. Kamu telah mengorbankan keindahan rumah yang seharusnya bisa kamu nikmati hanya untuk memerhatikan sendok berisi tinta ini. Karena terus mengkhawatirkan tinta ini, kamu tidak sempat melihat rumah dan halaman yang begitu indah. Rumah ini ada begitu banyak patung, ukiran, lukisan, hiasan dan ornamen yang cantik. Begitu juga dengan halaman rumah yang berhiaskan bunga-bunga warna-warni yang bermekaran. Kamu tidak bisa melihatnya karena kamu terus melihat sendok ini."

Ia melanjutkan, "Jika kamu selalu melihat kejelekan di balik tumpukan keindahan, hidup kamu akan dipenuhi penderitaan dan kesengsaraan. Sebaliknya, jika kamu selalu mampu melihat keindahan di balik tumpukan kejelekan, maka hidup kamu akan lebih indah. Itulah rahasia dari kebahagiaan. Apakah sekarang sudah mengerti, anak muda?"

Pemuda itu benar-benar salut atas kebijaksaan dari orang tua itu. Ia sungguh puas dengan jawabannya. Akhirnya ia menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Sebelum pergi, ia menepati janjinya dengan memberi hormat dan dua jempol kepada orang tua tersebut.

RENUNGAN : Dalam hidup ini, alangkah baiknya kita tidak menjerumuskan diri kita ke dalam keterpurukan. Selalu ada hal positif yang bisa kita ambil. Jangan mengorbankan keindahan hidup hanya untuk melihat sisi jeleknya. Jadilah orang yang senantiasa melihat setitik terang di dalam gelap.

Isinya.. Bukan Bungkusannya


Hidup akan sangat melelahkan,
sia-sia dan menjemukan
bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUSAN-nya saja
dan mengabaikan ISINYA.

Bedakanlah apa itu Bungkusan
dan apa itu Isinya.

Rumah yg indah hanya bungkusan;
Keluarga Bahagia itu isinya.

Pesta nikah hanya bungkusan;
Cintakasih, Pengertian dan komitmen, itu isinya

Ranjang mewah hanya bungkusan;
Tidur nyenyak itu isinya.

Makan enak hanya bungkusan;
Gizi dan energi itu isinya.

Kecantikan hanya bungkusan;
Kepribadian itu isinya.

Bicara itu hanya bungkusan;
Kerja nyata itu isinya.

Buku hanya bungkusan;
Pengetahuan itu isinya.

Jabatan hanya bungkusan;
Pengabdian dan pelayanan itu isinya.

Pergi ke Rumah Ibadah itu bungkusan;
Melakukan perintah Tuhan dalam hidup itu isinya.

Utamakanlah isinya...
namun rawatlah bungkusnya...

KISAH APAKAH NASIB DAPAT DIRUBAH

Written By Regina Kim on Kamis, 04 September 2014 | 17.55


Alkisah hidup lah seorang peramal terkenal bernama Chen pau lie dan seorang anak laki-laki tunggalnya bernama Chen wen cien disebuah kota kecil di cina selatan, pak Lie umurnya sudah 60 tahun dan anaknya baru berumur 19 tahun sedangkan istri dari pak Lie telah meninggal waktu Wen Cien berumur 15 tahun, bapak dan anak ini hid...up dengan serba bercukupan, hal ini dikarenakan pak Lie selain menjadi peramal terkenal yang ramalannya selalu tepat dia juga adalah tabib terkenal juga, tugas Wen cien setiap pulang sekolah adalah meracik obat-obatan di apotik mereka bersama dua orang pembantunya sementara pak Lie sibuk melayani pasien yang sangat banyak setiap harinya.
Begitulah kegiatan keseharian bapak dan anak tersebut, Pada suatu malam pak Lie coba meramal nasib anaknya, alangkah terkejutnya pak Lie melihat hasil dari ramalan itu, ternyata Wen Cien anak kesayangannya tidak berumur panjang dan meninggal di usia yang sangat muda yaitu pada umur 20 tahun. Pak Lie sangat terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan ini, keesokan hari pagi-pagi buta pak Lie pergi ke gunung untuk menemui gurunya, berharap ramalannya salah.
Tapi apa mau dikata, guru pak Lie juga mengatakan hal yang sama, dengan langkah yang gontai pak Lie pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah pak Lie terus melamun " kenapa anak yang begitu baik harus mati muda, siapa lagi penerus ku, buat apa harta ku berlimpah tetapi anakku satu-satunya tidak dapat ku pertahankan dan akan mati muda" gumannya dalam hati. Pak lie tidak sanggup melihat anak kesayangannya meninggal dihadapannya.
Pak Lie pun memanggil Wen Cien "anakku kamu sudah dewasa, menurut adat nenek moyang kita kamu harus pergi berkelana mencari ilmu, kini waktunya telah tiba anakku " kata pak Lie sambil meneteskan air mata, sebenarnya tak ada adat seperti itu dalam keluarga pak Lie, ini hanya ide dari pak Lie karena dia tak mau melihat anak kesayangan meninggal di hadapannya.
Wen cien pun bertanya "kenapa papa menangis? kalau papa rasa berat, kita langgar aja adat keluarga kita itu, lagipula siapa yang membantu papa nanti" pak Lie pun tersadar dan berpura-pura tegar dihapusnya air mata "Anakku adat tidak boleh dilanggar dan kamu jangan kawatirkan papa, kan ada dua pembantu kita yang setia mendampingi papa, besok pagi-pagi kamu sudah harus berangkat anakku "
Keesok paginya Wen Cien pun berangkat dengan bekal dan uang yang cukup banyak karena pak Lie tahu anaknya tak akan kembali lagi, sebagian uang tabungan pak Lie diserahkan kepada anaknya, pak Lie berharap anak nya dapat menikmati sisa hidupnya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun pak lie pun kembali tegar meskipun terkadang pak Lie bersedih bila teringat pada anak kesayangannya itu. Setelah kepergian Wen Cien, pak Lie pun menjadi seorang dermawan yang baik hati, baginya harta tidak penting lagi, pak Lie selalu memberi pengobatan gratis terhadap pasien-pasiennya yang kurang mampu juga terhadap kedua pembantunya, pak Lie sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri, setiap ada kegiatan sosial atau ada pembangunan Vihara pak Lie selalu menyumbang.
Pada suatu malam setelah hujan yang begitu deras berhenti, pintu rumah Pak Lie diketuk oleh seseorang berkali-kali, pak Lie pun bergegas keluar dari kamar, pak Lie menebak pasti ada orang yang butuh pertolongan, pak Lie pun segera membukakan pintu... dan alangkah terkejutnya pak Lie..pak Lie tidak percaya orang yang berdiri dihadapannya dengan seragam pengawai pemerintahan.
"....A cien.....Acien anak ku...benarkah itu...."teriak pak Lie dengan bibir yang bergetar dan mengucek-ucek matanya.
"Benar pak ini saya anak papa" jawab pemuda itu, lalu merekapun berpelukan rindu bertahun2 tidak bertemu, tapi dalam benak pak Lie berkata " ini tidak mungkin ....ini tidak mungkin...pu khe neng..." diusap-usapnya wajah pemuda itu pak Lie masih tidak percaya kalau itu Wen Cien anaknya atau ini arwahnya sebab seharusnya Wen cien telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Keesok harinya pak Lie masih penasaran dan tidak percaya kalau anaknya masih hidup, pak Lie pun bergegas pergi kegunung bersama Wen Cien utk menjumpai gurunya.
Sesampai di padepokan gurunya, setelah memberi hormat pak Lie pun langsung berkata "guru ramalan kita sudah salah guru...lihat Wen Cien anakku masih hidup dan sekarang menjadi pejabat "
Guru pak Lie " ehmmmm...tidak mungkin...tidak mungkin " sambil tangannya menghitung2 " ini tidak mungkin... semua hitungan kita benar...ada apa ini " guru pak Lie menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus janggutnya yang panjang.
Akhirnya guru pak Lie pun mengintrograsi Wen Cien " Nak coba katakan pada kakek guru apa yang kamu lakukan setelah meninggalkan rumah",
Wen Cien pun bercerita " Setelah pergi dari rumah aku tidak tahu mau kemana dengan menaiki kuda, aku telusuri jalan tanpa tujuan setiap kota yang ku jumpai aku beristirahat dan esoknya ku lanjutkan kembali perjalanan... lalu tiba disebuah sungai aku melihat seorang ibu dgn ketiga anaknya yang masih kecil menangis di pinggir jembatan, ku perhatikan terus ibu itu eh..ternyata dia dan ketiga anaknya akan melompat kesungai yang dalam itu...aku pun bergegas menahan ibu itu agar tidak tidak terjun kesungai tersebut..."
Ibu itu berteriak "mengapa kamu menolongku anak muda? AKU INGIN MATI!..."
Wen Cien pun berkata "kenapa ibu mau bunuh diri...? lagi pula kenapa anak-anak juga akan ibu bunuh apa yang terjadi ibu...? "
Ibu itu menjawab" suamiku baru saja meninggal... rumah serta ladang kami di sita oleh tengkulak, sekarang kami tidak memiliki apa-apa lagi, sebenarnya saya hanya ingin bunuh diri sendirian karena tidak tahan lagi menanggung beban yang sangat berat, tetapi kalau saya meninggal, bagaimana anak-anak saya? siapa yang memilihara mereka? jadi mereka saya bawa serta."
Mendengar cerita itu Wen Cien tergugah hatinya dan memberikan uang yang cukup banyak kepada ibu itu "Bu ini ada sedikit uang semoga bisa meringan kan beban ibu, " wah ini terlalu banyak anak muda" jawab ibu itu " tidak bu...saya juga minta izin tinggal bersama ibu karena di sini saya tidak punya saudara" sahut Wen Cien.
Wan Cien pun tinggal bersama ibu itu dan membantu mengambangkan usaha keluarga ibu itu. Kehidupan merekapun sekarang jauh lebih baik dari waktu suaminya masih hidup. Dan pada suatu hari ada pengumuman dari kota raja bahwa ada penerimaan pejabat negara.Wen Cien pun ikut ujian dan akhirnya lulus dgn nilai yang sangat baik serta di terima menjadi pejabat negara.
Mendengar cerita Wen Cien Pak Lie dan gurunya termenung sejenak sambil jari-jari mereka menghitung "...Aha....ternyata nasib bisa dirubah " celoteh guru Pak Lie.
Ternyata nasib bisa di rubah itulah kenyataannya, Wen Cien dan pak Lie telah merubah nasib mereka dengan berbuat kebajikan.

RENUNGAN : Cerita ini tak jauh berbeda dengan kisah LIAU FAN.. yang merubah nasib buruknya dengan berbuat kebajikan...dari cerita ini kita bisa mengambil kesimpulan tak ada satupun makhluk adi daya yang menguasai nasib kita ...kita lah sendiri yang mengendalikan nasib kita ...dari hasil karma masa lampau dan karma saat ini.....nasib baik juga akan mejadi buruk kalau di kehidupan ini kita isi dengan perbuat buruk sebaliknya nasib buruk akan menjadi baik apabila kita isi kehidupan kita dengan perbuatan-perbuatan baik.

KISAH LIAU FAN MENGUBAH NASIB DAN TAKDIR


Ada seorang pemuda yg telah diramal bakalan hidup susah, cita2 tdk tercapai, usaha bangkrut, tdk punya keturunan dan kenyataannya memang benar2 hidupnya sangat susah dan menderita sekali.

Maka ia sering berpikir bagaimana caranya ia bisa mengubah nasibnya. Dan ia sering berkonsultasi dgn banyak orang.
Akhirnya dia menemukan seorang Bijaksana yg diseganni karna kehidupannya yg arif, kemudian org bijaksana itu memberikan nasihat sebagai berikut:
"buatlah 1000 kebaikan maka nasibmu akan berubah lebih baik"
Dia berusaha melakukan saran tsb...berbulan2 dia kerjakan.. bantu orang angkut barang, berbagi makan dgn org yg lebih susah, menyebrangkan orang di sungai, selalu sabar walau sering di ganggu, selalu senyum pada semua orang.
Tapi aneh... baru 700 an berbuat kebaikan, kok hidupnya sudah berubah menjadi lbh baik...
Dia kembali lg ke orang bijaksana tsb....
Orang arif tsb berkata: "Engkau pasti telah lakukan 1000x
Coba ditelusuri lagi."
Begitu ditelusuri satu persatu...
sampailah pada 1 hal yg ia ingat...
pemuda ini pernah mmbangun JEMBATAN agar orang2 bisa
gampang "Menyebrangi" sungai...
ternyata jembatan itu bukan 1x kebaikan, tapi setiap orang yg melintas JEMBATAN tsb dihitung sebagai 1x Kebaikan...
Marilah mengubah Nasib menjadi lebih Baik dgn MEMULAI Berbuat Baik terhadap "Semua Orang" setiap hari.

RENUNGAN : Ketika kita berbuat Jahat, Garang, iri, Kecewa, mencuri, menipu dll, maka keberuntungan menjauh, maut mulai mendekat tuk mengetuk pintu..
Sebaliknya ketika kebaikan ditabur, maut menjauh, damai dan kesejahteraan mulai mendekat.
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi putus asa.

KISAH IBU BURUNG GAGAK DENGAN ANAK2NYA

Written By Regina Kim on Senin, 18 Agustus 2014 | 04.26


Tahun ini, musim kemarau sangat panjang. Tumbuhan mulai mengering, sungai-sungai kehilangan aliran airnya, mata air kering dan air sumur menyusut. Beberapa binatang bahkan mati akibat suhu panas dan haus. Semua hewan dan tumbuhan selalu berdoa atas hujan yang hadir dan memberi kehidupan pada mereka.

Keadaan yang tidak menguntungkan ini membuat seorang ibu gagak mengajak anak-anaknya yang berjumlah 8 orang untuk migrasi ke daerah yang lebih sejuk dan memiliki persediaan air yang cukup. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya mereka berangkat ke daerah lain bersama-sama.

Rasa lelah dan haus menerpa keluarga gagak ini, akhirnya mereka beristirahat di sebuah rumah petani yang sudah ditinggalkan penghuninya. Mereka semua sangat kehausan. Hal ini menimbulkan pertengkaran akibat emosi, ditambah lagi terpaan matahari yang panas. Bahkan ibu gagak tidak bisa mendiamkan mereka.

Gagak paling kecil menghindari keributan saudara-saudaranya, dia bersedih karena pertengkaran itu. Akhirnya dia terbang mengitari rumah dan mencari siapa tahu ada persediaan air yang tersisa. Si gagak kecil akhirnya berhasil menemukan sebuah kendi di belakang rumah petani. Kendi itu berisi sedikit sekali air di dasarnya.

Si kecil memanggil ibu dan saudara-saudaranya. Rasanya percuma bila ada kendi berisi air yang sangat sedikit. Mereka tidak bisa mencapai dasar kendi, pada gagak perlu tempat berpijak saat minum, jika tidak, mereka bisa tercebur ke air dan mati. Tidak ada satupun yang berani masuk ke dalam kendi untuk minum.

Si gagak kecil tidak kehabisan akal, dia melihat tumpukan kerikil di luar rumah petani. Akhirnya dia terbang dan memasukkan kerikil itu ke dalam kendi. Saudara-saudaranya yang lain tidak tahu apa yang sedang dilakukan si gagak kecil dengan memasukkan kerikil ke dalam kendi.

Akhirnya sang ibu gagak mengerti, anak bungsunya memasukkan kerikil agar air yang ada di dasar kendi naik ke permukaan, sehingga mereka semua bisa minum dengan berpijak pada bibir kendi. Sang ibu meminta agar semua anaknya membantu si bungsu memasukkan kerikil.

Dengan kesabaran dan kerjasama, akhirnya air di dasar kendi naik ke permukaan. Mereka semua bergantian meminum air itu tanpa khawatir tercebur ke dalam air. Semua gagak memuji ide sang gagak kecil. Dan akhirnya, setelah melegakan tenggorokan, keluarga gagak itu terbang dan sampai di daerah yang lebih subur dan banyak hujan.

RENUNGAN:
Anda bisa belajar bahwa masalah tidak akan selesai dengan bertengkar. Yang bisa Anda lakukan adalah berpikir dalam ketenangan bagaimana menyelesaikan masalah itu. Kesabaran dan kerjasama juga menjadi kunci penting akan sebuah keberhasilan.

KISAH SI PEMBUAT BONEKA CANTIK


Di sebuah desa yang aman dan damai, ada seorang pembuat boneka yang sangat terkenal. Dengan sentuhan tangannya, boneka-boneka yang dibuat seolah-olah bisa hidup. Sebab, ia selalu membuat boneka dengan hati dan perasaannya. Tak heran, setiap boneka yang dibuatnya, selalu saja jadi rebutan untuk dibeli orang.

Seiring dengan berjalannya waktu, sang pembuat boneka pun mulai menua. Ia merasa, inilah saatnya membuat karya terakhir sebelum ajal menjemput. Untuk itu, ia pun segera bersiap-siap membuat boneka terbaik yang bisa dibuatnya.

Bahan-bahan terbaik pun dikumpulkannya. Kali ini, ia bertekad membuat boneka perempuan tercantik yang tak ada bandingannya. Maka, setiap hari, setiap waktu, sang pembuat boneka pun hanya berkutat untuk terus memperbaiki karyanya.

Sekian lama membuat boneka yang akan jadi karya terakhir, si pembuat boneka pun akhirnya puas. Ia merasa, sudah membuat boneka sempurna yang akan jadi peninggalan terbaik karyanya. Ditimangnya boneka itu dengan penuh sayang, seperti anaknya sendiri.

Setelah puas menimang, si pembuat boneka membawa boneka itu ke depan cermin untuk semakin melihat kesempurnaannya. Ia pun berkata. "Hai boneka cantik. Lihatlah dirimu. Engkau pasti akan jadi boneka yang bisa membawa senyum dan tawa bahagia karena keelokanmu," ucapnya.

Namun, tiba-tiba, boneka itu seolah-olah berkata. "Ah, aku tidak cantik! Lihatlah, rambutku hitam. Padahal aku ingin punya rambut pirang nan menawan. Mataku gelap. Padahal aku ingin punya mata hijau seperti indahnya pepohonan. Aku juga tak suka bentuk tubuhku yang terlalu kurus. Aku ingin tubuhku lebih berisi sehingga bisa menawan hati!"

Si pembuat boneka pun jadi sedih mendengar keluhan ciptaannya. Maka, ia pun mencampakkan begitu saja karya yang tadi sangat dipujanya. Sehingga, boneka itu pun teronggok begitu saja dan lama-kelamaan dilupakan oleh pembuatnya. Boneka yang tadinya ingin dijadikan karya terbaik, kini telah jadi benda yang tak berarti apa-apa.

RENUNGAN :
kadang kita tak pernah puas dengan apa yang sudah kita dapat. Sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki, dan lupa bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan. Sehingga, tanpa sadar, apa yang sudah didapat, lama-lama justru akan berkurang atau bahkan hilang.

Padahal, Tuhan sebagai Sang Maha pencipta, telah memberikan kesempurnaan yang tiada tara bagi kita. Hanya saja, sering kali kita justru terfokus pada kekurangan yang dimiliki. Tak jarang, kita mengutuki mengapa tercipta begini, mengapa kurang begitu. Sehingga, kita lupa, bahwa kita bisa hidup saja sudah merupakan anugerah tak ternilai yang diberikan Ilahi.

Tak salah memang, jika ingin mendapat sesuatu yang lebih baik. Tak salah juga jika kita ingin mencapai sukses yang lebih tinggi. Hanya saja, jangan melupakan apa yang sudah diperoleh. Sehingga, saat mengejar yang lebih tinggi, cenderung melakukan apa saja. Akibatnya, sikut sana, sikut sini.

Mari, buka mata dan buka hati. Kita telah diciptakan dengan berjuta kebaikan dan potensi. Sebab, ada banyak hal yang patut disyukuri. Dengan memperbesar rasa syukur, kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Sehingga, kita akan jadi "boneka" cantik yang bukan hanya cantik di luar, tapi juga dari dalam diri.
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Kisah Motivasi Hidup | Kisah Motivasi Hidup
Copyright © 2011. Kisah Motivasi Hidup - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kisah Motivasi Hidup
Proudly powered by Blogger