Latest Post

KISAH SAHABAT TERBAIK

Written By Regina Kim on Rabu, 19 Desember 2012 | 22.40


Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal. Guru ini sangat tersohor dan punya banyak murid,namun ia juga memiliki anak perempuan yang cantik. Dan semua murid laki - lakinya sangat menyayangi putrinya ini. Pada zaman itu perkawinan diatur oleh orang tua pihak putri.

Suatu hari,guru itu datang dan mengumumkan, "Dengar, sudah saatnya putriku menikah, dan aku tahu kalian semua menyukainya. Menurut tradisi kami,ia seharusnya menikahi salah satu muridku. Jadi untuk menemukan siapa dari kalian yang akan menikahinya,aku akan memberikan kalian sebuah ujian. Ini adalah ujian kebijaksanaan dan kepatuhan, namun ujian ini juga akan memecahkan satu masalahku, yaitu membelikan rumah untuk putriku,padahal aku sangat miskin,tak punya uang. Jadi,apa yang harus kalian lakukan adalah,mulai minggu depan kalian masing - masing harus pergi kedesa - desa di sekitar sini,mengendap - endaplah ke dalam rumah - rumah penduduknya dan curilah apapun yang kalian bisa. Tapi pastikan tak seorangpun melihat kalian mencuri. Barangsiapa bisa mencuri paling banyak setelah tujuh hari,karna kepatuhan dan kebijaksaannya, ia boleh menikahi putriku. Dan semua barang yang kalian curi digabungkan dalam satu tumpukan dan diberikan kepada pasangan mempelai. Itulah Perintahnya,Pergilah!"

Para murid begitu terkejut. Guru meminta mereka mencuri?! Namun mereka semua mencintai sang putri guru, jadi mereka semua berpikir,"Cinta adalah yang terpenting.Aku akan lakukan apapun demi cinta!"

Maka mereka mengendap - endap menuju desa pada malam hari, menunggu para penghuninya terlelap,lalu mengambil apapun yang mereka bisa ambil. Kemudian mereka membawa barang curian mereka kembali ke guru mereka. Guru akan menanyai mereka apa bentuk rumah yang mereka masuki,dan mencatat dengan teliti siapa berada dimana dan mengambil apa. Pada akhir tujuh hari itu,semua murid berkumpul untuk melihat siapa yang menang.

Guru mengumumkan, "Kalian semua telah melakukannya dengan baik. Kalian telah mencuri begitu banyak barang, ada cukup banyak disini untuk pasangan mempelai manapun untuk memulai penghidupan dengan baik. Namun sebelum aku mengumumkan siapa yang mencuri paling banyak,adakah diantara kalian yang belum mencuri apapun?"

Salah satu murid mengangkat tangannya. Guru menatap dan menghardiknya, "Mengapa kamu tidak melakukannya,wahai pemuda yang tidak patuh?!" Murid muda ini berdiri dan berkata, "Tapi saya patuh,Guru. Saya mengikuti semua perintah guru." "Kalau begitu mengapa kamu tidak mencuri?"
"Karena, Guru, saya mengendap - endap memasuki desa pada malah hari,lalu menunggu penghuninya terlelap,atau lebih baik lagi, ketika mereka meninggalkan rumah. Lalu saya masuk kedalam dan melihat benda berharga mereka, dan ketika saya hendak mengambilnya,saya ingat anda berkata bahwa jangan mengambilnya jika ada yang memerhatikan. Dan saya Menyadari ada yang memerhatikan! Saya yang memerhatikan! Saya melihat diri saya Mencuri! Ada seorang disana. Itulah sebabnya saya tidak bisa mengambil apapun."

Guru itu berkata,"Akhirnya! Aku mendapatkan seorang murid bijaksana sedangkan sisanya hanya murid dungu. Kalian bisa mengembalikan semua barang itu,sebab aku sudah memberitahu penduduk desa sebelumnya dan mereka sudah tahu kalian akan datang. Mereka tidak akan melukai kalian ketika kalian mengembalikan semua barang itu. Aku sudah cukup kaya,aku hanya ingin tau siapa siswa paling bijaksana,yang mengetahui kapanpun mereka berbuat salah selalu ada orang yang melihatnya,dan ia tidak akan pernah berani menghianati putriku sebab akan selalu ada orang yang mengawasinya."

RENUNGAN:
Apapun yang anda lakukan dalam hidup,selalu ada orang yang melihatnya (anda sendiri). sama pula ketika saya sendirian dalam gubuk saya selama enam bulan,selalu ada orang yang mengamati saya.Diri saya sendiri.Anda tidak pernah sendirian. Anda selalu bersama orang lain. Satu-satunya alasan mengapa orang benci sendirian adalah karena mereka benci bersama diri mereka sendiri.

Jika anda bersahabat dengan diri anda sendiri,seperti yang saya lakukan selama enam bulan retret dan dikucilkan sendirian,saya berada bersama orang yang saya hormati dan kasihi,diri saya sendiri. Saya bersama sahabat paling baik saya,itulah mengapa saya tidak pernah kesepian. Jadi sama pula,bagaimana anda bisa menjadi sahabat terbaik bagi diri anda sendiri?

Temukan sesuatu dalam diri anda yang anda sukai. ada begitu banyak hal dalam diri anda yang anda sukai. Fokuslah pada hal itu. Jangan berfokus pada kesalahan,kekurangan,dan perbuatan keliru yang telah anda lakukan. Jika anda bersama dengan batin yang suka mencari kesalahan seperti itu,maka anda tidak akan tahan dengan diri anda sendiri. Anda tahu apa yang terjadi ketika anda tidak tahan dengan diri anda sendiri,itulah yang menyebabkan orang tertekan dan bunuh diri,dan itu adalah tragedi besar.

Jadi belajarlah bagaimana cara menyukai dan mengasihi diri anda sendiri dengan memiliki sikap positif terhadap diri anda sendiri.Istirahatlah sedikit supaya anda dapat menyingkirkan kemuraman,maka anda bisa mulai menyukai dan mencintai diri anda sendiri,maka saat itu anda adalah sahabat terbaik anda. Saya jamin dengan sikap seperti itu,ke manapun anda pergi,tak peduli apapun yang terjadi didunia,anda akan selalu bersama sahabat terbaik anda. Itulah salah satu hal terindah yang bisa dilakukan.

Tanya Jawab tentang : Kemarahan

Written By Regina Kim on Selasa, 18 Desember 2012 | 21.47


Tanya: Saya bermasalah dengan istri. Belakangan ini, istri sering kabur dari rumah dan memiliki pria idaman lain. Sempat terlintas untuk mengakhiri hidup pria itu. Saya merasakan kemarahan yang membara. Bagaimana menghadapinya?

Jawab: Kalau Anda menyakiti istri atau pria idaman lain dari istri, maka Anda juga menyakiti diri sendiri. Apa yang Anda lakukan terhadap orang lain akan kembali kepada diri sendiri. Karena itu, olahlah kemarahan Anda, supaya tidak menghancurkan orang lain dan diri sendiri.

Ketika Anda teringat akan istri atau pria idaman lain, dan muncul kemarahan saat meditasi, cobalah biarkan kemarahan itu meledak. Anda amati saja. Setiap kali perasaan itu datang, Anda cukup mengamatinya.

Tetapi, kemudian jangan hanya mengamati kemarahan. Amati pula kotoran-kotoran batin yang mengiringi kemarahan itu. Misalnya, ada keinginan dalam diri Anda untuk menekan, membuang, menerima kenyataan tersebut; ada pikiran untuk menyalahkan orang lain, membenarkan diri sendiri; ada rasa luka dari masa lampau yang masih terus terbawa; ada ketakutan istri diambil orang lain; ada kesepian atau kekosongan kalau istri pergi selamanya.

Selamilah kemarahan dan semua kotoran batin itu - awal mula, proses, dampak, dan keseluruhannya, hingga kemarahan tersebut tidak lagi menggoncang batin Anda.

Story about Good? Bad? Who knows?


Ada seorang raja yang sangat senang berburu. Suatu hari, saat berburu, jarinya terluka. Raja begitu gelisah dan bertanya kepada tabib tua yang merawatnya, "Apakah jariku bakal baik atau buruk?" Tabibnya menjawab, "Good? Bad? Who knows?" (Baik? Buruk? Siapa yang tahu?)

Beberapa hari kemudian, jari itu terinfeksi, menjadi bengkak. "Apa yang akan terjadi? Apakah aku akan baik-baik saja?" tanya raja. Tabibnya menjawab, "Good? Bad? Who knows?" Jelas, ucapan tabib itu tidak mengesankan bagi raja. Lukanya semakin parah, hingga tabib harus memotong jarinya yang terinfeksi.Raja sangat marah dan menjebloskan tabibnya ke penjara, karena tak bisa menyelamatkan jarinya.

Setelah luka di tangannya sembuh, raja kembali berburu. Ia mengejar buruannya sampai ke pelosok rimba, terpisah dari rombongan. Ia ditangkap suku penghuni rimba yang akan mengorbankannya kepada dewa mereka. Raja sangat ketakutan. Tetapi, mereka batal mengorbankan raja karena jari tangannya kurang satu!

Suku rimba itu berkata, "Kamu tidak sempurna untuk dijadikan korban persembahan." Raja itu dibebaskan. Kini ia malah merasa beruntung karena kehilangan satu jarinya. Setiba di istana, ia menemui tabib di penjara dan berkata, "Menakjubkan! Memang aku kehilangan jariku, tetapi siapa yang tahu ini baik atau buruk? Ternyata, ini baik bagiku. Terima kasih. Aku membebaskanmu!"

RENUNGAN:
Makna kisah itu adalah... baik atau buruk, siapa yang tahu? Jika suami Anda meninggalkan Anda karena perempuan lain... Good? Bad? Who knows? Anda tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Anda kehilangan rumah Anda: Good? Bad? Who knows?

Hal yang menakjubkan mengenai hidup adalah hidup ini begitu tidak pasti. Kita tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Namun, terhadap semua hal yang terjadi dalam hidup, kita bisa memiliki hubungan yang baik terhadapnya, bersikap ramah, dan menerimanya. Kita tidak menyalahkan kehidupan, marah atau sedih pada hidup, sebab... Good? Bad? Who knows?

Ketika pacar saya mencampakkan saya, rasanya sangat menderita. Namun kini saya dapat berkata, "Terima kasih banyak. Karena jika kamu tidak mencampakkanku, aku sudah menikah denganmu, punya anak, lalu cerai, dengan banyak cicilan dan tagihan."

Bagaimana Anda bisa begitu marah dan kritis terhadap hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginan Anda? Ini adalah falsafah indah mengenai kehidupan. Anda tidak menjadi negatif sama sekali terhadap hidup, namun... Good? Bad? Who knows?

Apa yang Terjadi Jika Tidak Terjadi?


Untuk mengatasi rasa takut, kita tidak boleh hanya memikirkan segala hal yang bisa mengakibatkan kegagalan, namun juga harus ikut memasukkan semua hal yang bisa berjalan mulus.

Kisah favorit saya datang dari filsuf dan pemandu spiritual di zaman kita yang bernama Winnie the Pooh. Winnie, beruang lembut tak pernah sekolah. Ia memiliki otak kecil, karena itu ia begitu bijaksana. Sedangkan Piglet, babi yang paranoid, selalu dihantui ketakutan. Mereka bersahabat karib.

Suatu hari, mereka berjalan pulang melalui hutan. Saat itu angin bertiup makin kencang, padahal mereka masih jauh dari rumah. Piglet takut pohon-pohon tumbang karena badai. Ia berpegangan erat pada Winnie sambil berkata, "Aku tak bisa melanjutkan! Aku takut! Apa yang akan terjadi jika pohon tumbang dan kita berada di bawahnya?"

Sekejap saja Winnie merasa takut. Namun, kebijaksanaan muncul dalam dirinya. Ia berkata, "Apa yang akan terjadi jika pohon tidak tumbang dan tidak jatuh menimpa kita?" Dengan penyadaran itu, semua rasa takut berlalu. Mereka pulang dengan selamat.

Rasa takut: apa yang terjadi jika sesuatu yang buruk terjadi.
Pemusnah rasa takut: apa yang terjadi jika itu tidak terjadi.

Kisah Busur Tanpa Tali


Suatu hari, Aesop - penulis fabel Yunani (620-564 SM) - sedang bermain dengan anak-anak, berteriak dan tertawa bersama mereka. Seorang Yunani yang kebetulan lewat sangat heran dengan perilaku Aesop. Menurutnya, Aesop yang sudah dewasa hanya membuang-buang waktu dengan bermain bersama anak-anak.

Aesop mengambil sebuah busur dan melepaskan talinya. Ia bertanya kepada orang tersebut, "Orang bijak, katakan kepadaku apa makna busur tanpa tali?" Pria Yunani itu bingung, "Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Katakan apa artinya."

Aesop menjawab, "Jika engkau terus menyimpan busur dalam keadaan melengkung karena tarikan talinya, busur itu akan kehilangan kelenturannya. Jika engkau biarkan busur mengendur, ia akan menjadi lebih bagus untuk digunakan."

RENUNGAN:
Sebagian besar dari kita sama seperti busur yang selalu dilengkungkan itu, selalu sangat tegang. Kita perlu mengendurkan diri kita, rileks dari waktu ke waktu, sehingga kita bisa menjadi "lebih baik untuk digunakan," ketika kita harus bertindak. Agar bisa rileks, kita perlu belajar untuk "tidak memikirkan sesuatu."

Kisah ucapan Selamat pagi yang menyelamatkan nyawa


Tahun 1930-an, Rabbi Samuel Shapira, pemimpin komunitas Yahudi di Prochnik, sebuah desa di Polandia, mempunyai kebiasaan berjalan kaki sehat. Rabbi ini dikenal sebagai orang yang hangat dan penuh kasih. Ia selalu menyapa setiap orang yang dijumpainya. Salah satu yang selalu disapanya adalah seorang petani bernama Herr (Tuan) Mueller.

Ketika pertama kali disapa di ladangnya yang terletak di pinggiran kota, Herr Mueller memalingkan kepala tanpa menjawab. Hubungan antara warga Yahudi dan non-Yahudi di desa itu tidak terlalu baik. Jarang ada persahabatan di antara mereka.

Tetapi Rabbi Shapira tidak berkecil hati. Ia tetap menyapa Herr Mueller dengan sapaan gembira setiap pagi. Lama kelamaan, si petani mulai membalas sapaan dengan menyentuh ujung topinya sambil sedikit tersenyum. Hal ini berlangsung bertahun-tahun. "Selamat pagi, Herr Mueller!" Belakangan, yang disapa akan menyentuh ujung topinya dan balas berteriak, "Selamat pagi, Herr Rabiner!"

Tetapi, kebiasaan ini berhenti ketika pasukan Nazi menguasai Polandia. Rabbi Shapira dan keluarganya serta semua orang Yahudi di desa itu dikirim ke kamp konsentrasi. Rabbi Shapira dipindahkan dari satu kamp ke kamp lain, hingga akhirnya ia tiba di perhentian terakhir: Auschwitz.

Begitu turun dari kereta, ia diperintahkan masuk dalam barisan orang-orang yang sedang diseleksi. Tongkat komandan Nazi akan menentukan, jika tongkat mengarah ke kiri berarti orang yang ditunjuk akan mati, sedangkan ke kanan mengisyaratkan orang itu boleh tetap hidup.

Tibalah giliran Rabbi Shapira. Dengan hati berdebar ia maju, menuju sang komandan. Mata mereka bertemu. Rabbi Shapira mendekat dan berkata perlahan, "Selamat pagi, Herr Mueller!" Mata yang disapa tampak dingin dan mengerjap sesaat. "Selamat pagi, Herr Rabiner!" sahutnya sangat pelan.Tongkat komandan diayunkan. "Recht (kanan)!" kata Herr Mueller dengan lantang - Hidup!

RENUNGAN:
Siapa sangka, sebuah sapaan sederhana bisa menyelamatkan nyawa? Terkadang, tindakan yang kita anggap paling kecil sekali pun, bisa memberikan hasil begitu besar dan penting.
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Kisah Motivasi Hidup | Kisah Motivasi Hidup
Copyright © 2011. Kisah Motivasi Hidup - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kisah Motivasi Hidup
Proudly powered by Blogger