Latest Post
23.33
Penduduk di negeri China suka sekali belajar. Salah satu kisah yang sering digunakan oleh guru dan orangtua untuk memotivasi seorang anak agar rajin belajar adalah kisah Sun Kang yang rindu terus membaca h
ingga terluka.
Sun Kang hidup pada zaman Dinasti Jin (317-420 Masehi). Sejak usia kanak-kanak sudah tampak kepintarannya. Ia suka sekali terhadap buku, tetapi ia dibesarkan dari keluarga yang sangat miskin sampai minyak untuk lampu pun tidak sanggup dibeli. Karena miskin dan dorongan kebutuhan yang mendesak, maka orangtuanya mewajibkan semua anaknya untuk bekerja, termasuk Sun Kang yang masih kecil. Setiap hari ia bekerja sampai menjelang malam sehingga pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan juga tidak ada lagi waktu untuk membaca buku karena di rumah tidak ada penerangan. Di desa itu hanya rumah Sun Kang yang tidak ada penerangannya.
Sun Kang sering berangan-angan kalau saja rumahnya memiliki lampu, maka ia bisa membaca banyak buku. Karena sangat ingin membaca buku, ia bertanya kepada ayah dan ibunya,"Semua tetangga kita mempunyai lampu, hanya rumah kita yang tidak punya lampu. Jika begini terus, siang hari bekerja dan malam hari tidak bisa membaca buku, kapan saya bisa menjadi anak yang pintar. Bisa tidak kita punya satu lampu?"
Mendengar pertanyaan anaknya, kedua oprangtuanya sangat sedih. Dengan berat hati mereka berkata, "Sun Kang, kita sangat miskin dan minyak untuk lampu sangat mahal, kitas tidak sanggup membelinya. Jika kita membeli minyak untuk lampu, kita sekeluarga pelan-pelan bisa mati kelaparan." Setelah berkata begitu kedua orangtuanya meneteskan airmata. Ia pun ikut menangis. Sun Kang sungguh mengerti dan prihatin akan kondisi keluarganya sehingga ia berjanji dalam hati untuk tidak lagi menuntut orangtuanya membeli lampu minyak.
Kerinduan untuk membaca buku tetaplah besar. Sun Kang sering meminjam buku orang lain dan ia selalu mengembalikan buku itu tepat waktu. Kendatipun seharian telah lelah bekerja, malam hari ia selalu pergi ke luar rumah untuk mencari sinar rembulan pada malam hari untuk membaca buku. Namun, karena sinar yang serba terbatas membuat kedua matanya sering letih dan tak sanggup membaca dengan waktu yang panjang.
Pada suatu musim dingin, turun salju yang sangat lebat. Pada waktu malam hari hujan salju berhenti, udara sangat segar, dan malam itu terang rembulan sangat baik. Sun Kang berpikir ini waktu yang baik untuk membaca buku. Karena itu, ia pergi ke luar dengan membawa satu buku dibaca di bawah sinar rembulan dan juga terang dari lampu tetangga. Setelah membaca, ia pun merasa lelah dan ingin pulang. Dalam perjalanan pulang ia tersandung dan bukunya jatuh di atas salju. Karena ingin menyelamatkan bukunya, ia segera bangkit untuk mengambil buku itu walau kakinya terluka. Pada waktu ia hendak memungut bukunya, ia bisa melihat dengan jelas tulisan yang ada dalam buku. Kok bisa? Ternyata salju yang padat bisa memantulkan sinar sehingga bisa membuat cahaya lebih terang dari sinar rembulan.
Menemukan peristiwa ini, Sun Kang pun bergembira karena ternyata di balik musim salju yang dingin dia dapat membaca buku dengan lebih baik. Mulai hari itu tiap malam ia pergi ke luar untuk membaca buku dengan memanfaatkan sinar rembulan dan pantulan cahaya dari salju. Ia terus berusaha melawan dingin agar bisa membaca buku. Padahal, jika orang kedinginan mudah menderita borok di kulit. Penyakit ini disebut dong chuang. Jika orang sudah menderita borok tersebut, borok itu tidak bisa sembuh sampai musim dingin usai. Borok itu membuat daging dan kulit terbuka sehingga perih sekali. Namun, walau harus menderita borok yang sangatperih, Sun Kang tetap pergi pada malam yang dingin hanya untuk bisa membaca buku. Lama kelamaan tangan dan kakinya penuh dengan dong chuang yang sangat perih, tetapi itu sama sekali tidak membuatnya berhenti membaca buku. Menurut Sun Kang, hanya dengan sinar rembulan dan pantulan sinar dari salju ia bisa membaca banyak buku.Oleh karena itu, tidak perduli berapa sakit yang harus ia tahan dari borok musim dingin itu, ia tetap akan membaca buku.
Akhirnya Sun Kang tumbuh menjadi ahli pikir yang brilian dan menjadi penasihat yang baik untuk membangun kerajaan. Kisah ini berkembang dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Kisah Sun Kang sungguh mengharukan dan sering menjadi cerita yang mampu memotivasi anak-anak di China untuk rindu membaca dan belajar. Teruslah membaca dan belajar walau untuk itu harus terluka.
KISAH SUN KANG YANG GEMAR MEMBACA
Written By Regina Kim on Minggu, 25 November 2012 | 23.33
Penduduk di negeri China suka sekali belajar. Salah satu kisah yang sering digunakan oleh guru dan orangtua untuk memotivasi seorang anak agar rajin belajar adalah kisah Sun Kang yang rindu terus membaca h
ingga terluka.
Sun Kang hidup pada zaman Dinasti Jin (317-420 Masehi). Sejak usia kanak-kanak sudah tampak kepintarannya. Ia suka sekali terhadap buku, tetapi ia dibesarkan dari keluarga yang sangat miskin sampai minyak untuk lampu pun tidak sanggup dibeli. Karena miskin dan dorongan kebutuhan yang mendesak, maka orangtuanya mewajibkan semua anaknya untuk bekerja, termasuk Sun Kang yang masih kecil. Setiap hari ia bekerja sampai menjelang malam sehingga pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan juga tidak ada lagi waktu untuk membaca buku karena di rumah tidak ada penerangan. Di desa itu hanya rumah Sun Kang yang tidak ada penerangannya.
Sun Kang sering berangan-angan kalau saja rumahnya memiliki lampu, maka ia bisa membaca banyak buku. Karena sangat ingin membaca buku, ia bertanya kepada ayah dan ibunya,"Semua tetangga kita mempunyai lampu, hanya rumah kita yang tidak punya lampu. Jika begini terus, siang hari bekerja dan malam hari tidak bisa membaca buku, kapan saya bisa menjadi anak yang pintar. Bisa tidak kita punya satu lampu?"
Mendengar pertanyaan anaknya, kedua oprangtuanya sangat sedih. Dengan berat hati mereka berkata, "Sun Kang, kita sangat miskin dan minyak untuk lampu sangat mahal, kitas tidak sanggup membelinya. Jika kita membeli minyak untuk lampu, kita sekeluarga pelan-pelan bisa mati kelaparan." Setelah berkata begitu kedua orangtuanya meneteskan airmata. Ia pun ikut menangis. Sun Kang sungguh mengerti dan prihatin akan kondisi keluarganya sehingga ia berjanji dalam hati untuk tidak lagi menuntut orangtuanya membeli lampu minyak.
Kerinduan untuk membaca buku tetaplah besar. Sun Kang sering meminjam buku orang lain dan ia selalu mengembalikan buku itu tepat waktu. Kendatipun seharian telah lelah bekerja, malam hari ia selalu pergi ke luar rumah untuk mencari sinar rembulan pada malam hari untuk membaca buku. Namun, karena sinar yang serba terbatas membuat kedua matanya sering letih dan tak sanggup membaca dengan waktu yang panjang.
Pada suatu musim dingin, turun salju yang sangat lebat. Pada waktu malam hari hujan salju berhenti, udara sangat segar, dan malam itu terang rembulan sangat baik. Sun Kang berpikir ini waktu yang baik untuk membaca buku. Karena itu, ia pergi ke luar dengan membawa satu buku dibaca di bawah sinar rembulan dan juga terang dari lampu tetangga. Setelah membaca, ia pun merasa lelah dan ingin pulang. Dalam perjalanan pulang ia tersandung dan bukunya jatuh di atas salju. Karena ingin menyelamatkan bukunya, ia segera bangkit untuk mengambil buku itu walau kakinya terluka. Pada waktu ia hendak memungut bukunya, ia bisa melihat dengan jelas tulisan yang ada dalam buku. Kok bisa? Ternyata salju yang padat bisa memantulkan sinar sehingga bisa membuat cahaya lebih terang dari sinar rembulan.
Menemukan peristiwa ini, Sun Kang pun bergembira karena ternyata di balik musim salju yang dingin dia dapat membaca buku dengan lebih baik. Mulai hari itu tiap malam ia pergi ke luar untuk membaca buku dengan memanfaatkan sinar rembulan dan pantulan cahaya dari salju. Ia terus berusaha melawan dingin agar bisa membaca buku. Padahal, jika orang kedinginan mudah menderita borok di kulit. Penyakit ini disebut dong chuang. Jika orang sudah menderita borok tersebut, borok itu tidak bisa sembuh sampai musim dingin usai. Borok itu membuat daging dan kulit terbuka sehingga perih sekali. Namun, walau harus menderita borok yang sangatperih, Sun Kang tetap pergi pada malam yang dingin hanya untuk bisa membaca buku. Lama kelamaan tangan dan kakinya penuh dengan dong chuang yang sangat perih, tetapi itu sama sekali tidak membuatnya berhenti membaca buku. Menurut Sun Kang, hanya dengan sinar rembulan dan pantulan sinar dari salju ia bisa membaca banyak buku.Oleh karena itu, tidak perduli berapa sakit yang harus ia tahan dari borok musim dingin itu, ia tetap akan membaca buku.
Akhirnya Sun Kang tumbuh menjadi ahli pikir yang brilian dan menjadi penasihat yang baik untuk membangun kerajaan. Kisah ini berkembang dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Kisah Sun Kang sungguh mengharukan dan sering menjadi cerita yang mampu memotivasi anak-anak di China untuk rindu membaca dan belajar. Teruslah membaca dan belajar walau untuk itu harus terluka.
Label:
Kisah Tiongkok
23.27
Burung hantu selalu tidur di siang hari. Setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit dan perlahan-lahan bayangan naik dia menggeliat dan berkedip dari lubang pohon tua. Sekarang dia be
rseru "hoo-hoo-hoo-oo-oo" bergema melalui kayu yang rimbun dan ia mulai berburu serangga, kumbang, katak dan tikus sebagai makanan kesukaannya.
Saat ini ada seekor burung hantu tua yang galak, terutama jika ada yang mengganggu saat ia tidur. Suatu sore musim panas yang hangat saat ia tertidur jauh di dalam lubang pohon tua, belalang di dekatnya mulai menyanyikan lagu gembira namun sangat menyesakkan telinga. Burung hantu tua menengok dari lubang pohon yang digunakan sebagai pintu dan jendela.
"Pergi dari sini, tuan," katanya kepada belalang tersebut. "Apakah Anda tidak memiliki sopan santun? Anda setidaknya harus menghormati usia saya dan membiarkan saya tidur dengan tenang! "Tapi Belalang menjawab dengan kasar bahwa adalah juga haknya di tempat ini saat matahari bersinar sama di pohon tua. Lalu ia meneriakkan suara lebih keras dan lagu berisik yang menjadi-jadi.Burung hantu tua yang bijak tahu benar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan Belalang keras kepala ini. Selain itu, matanya semakin rabun untuk memungkinkan dirinya menghukum Belalang. Akhirnya dia melupakan semua kata keras dan kembali berbicara dengan sangat ramah kepadanya.
"Tuan yang baik hati," katanya, "jika saya harus tetap terjaga, saya akan datang untuk menikmati nyanyian Anda. Tapi saat ini saya memiliki anggur lezat di sini, kiriman dari Olympus, saya kira merupakan minuman Apollo sebelum ia menyanyi untuk para dewa tinggi. Silahkan datang dan rasakan minuman lezat ini dengan saya. Saya tahu itu akan membuat Anda bernyanyi seperti Apollo . "
Belalang bodoh itu terhanyut oleh kata-kata sanjungan burung hantu. Akhirnya dia melompat ke sarang burung hantu, begitu belalang cukup dekat dalam jangkauan penglihatan, ia menerkam dan memakannya.
RENUNGAN:
Pujian terkadang bukanlah bukti kagum yang sesungguhnya. Jangan biarkan pujian melambungkan Anda sehingga lengah melawan musuh.
KISAH BURUNG HANTU DAN BELALANG
Burung hantu selalu tidur di siang hari. Setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit dan perlahan-lahan bayangan naik dia menggeliat dan berkedip dari lubang pohon tua. Sekarang dia be
rseru "hoo-hoo-hoo-oo-oo" bergema melalui kayu yang rimbun dan ia mulai berburu serangga, kumbang, katak dan tikus sebagai makanan kesukaannya.
Saat ini ada seekor burung hantu tua yang galak, terutama jika ada yang mengganggu saat ia tidur. Suatu sore musim panas yang hangat saat ia tertidur jauh di dalam lubang pohon tua, belalang di dekatnya mulai menyanyikan lagu gembira namun sangat menyesakkan telinga. Burung hantu tua menengok dari lubang pohon yang digunakan sebagai pintu dan jendela.
"Pergi dari sini, tuan," katanya kepada belalang tersebut. "Apakah Anda tidak memiliki sopan santun? Anda setidaknya harus menghormati usia saya dan membiarkan saya tidur dengan tenang! "Tapi Belalang menjawab dengan kasar bahwa adalah juga haknya di tempat ini saat matahari bersinar sama di pohon tua. Lalu ia meneriakkan suara lebih keras dan lagu berisik yang menjadi-jadi.Burung hantu tua yang bijak tahu benar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan Belalang keras kepala ini. Selain itu, matanya semakin rabun untuk memungkinkan dirinya menghukum Belalang. Akhirnya dia melupakan semua kata keras dan kembali berbicara dengan sangat ramah kepadanya.
"Tuan yang baik hati," katanya, "jika saya harus tetap terjaga, saya akan datang untuk menikmati nyanyian Anda. Tapi saat ini saya memiliki anggur lezat di sini, kiriman dari Olympus, saya kira merupakan minuman Apollo sebelum ia menyanyi untuk para dewa tinggi. Silahkan datang dan rasakan minuman lezat ini dengan saya. Saya tahu itu akan membuat Anda bernyanyi seperti Apollo . "
Belalang bodoh itu terhanyut oleh kata-kata sanjungan burung hantu. Akhirnya dia melompat ke sarang burung hantu, begitu belalang cukup dekat dalam jangkauan penglihatan, ia menerkam dan memakannya.
RENUNGAN:
Pujian terkadang bukanlah bukti kagum yang sesungguhnya. Jangan biarkan pujian melambungkan Anda sehingga lengah melawan musuh.
Label:
Fabel
23.16
Seorang ibu memiliki seorang putri yang mulai beranjak remaja. Sang putri sebenarnya seorang anak yang ceria, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Tetapi ada satu perilakunya yang sangat mengganggu orang-orang di sekitarnya dan dirinya sendiri, yaitu suka mengeluh atau menggerutu. Sang ibu sudah berkali-kali mengingatkan putrinya untuk menghentikan kebiasaan buruknya, tetapi belum bisa membuat putrinya sepenuhnya sadar.
Suatu hari sang ibu membuatkan sirup markisa yang memang minuman kesukaan putrinya. Saat putrinya baru pulang sekolah, ibu sudah menyiapkan sirup markisa dalam gelas besar lengkap dengan sedotannya.
“Wah segar sekali…terima kasih Ibu….”
“Sirup dan kesegarannya itu adalah simbol kebahagiaanmu anakku…”
Saat sang putri sudah meminum sepertiga gelas, ibu menyuruh untuk menghentikan.
“Coba hentikan dulu anakku…Ini ada jarum yang sudah ibu bersihkan. Tusuklah sedotanmu dengan jarum ini di bagian yang di atas permukaan sirup. Buatlah dua atau tiga lubang di situ…”
Meskipun bingung putrinya menjalankan perintah sang ibu.
“Sekarang minumlah lagi…habiskan sirupmu…”
“Jadi gak enak Bu…Lubang-lubang kecil itu membuat aku sulit menghisap sirup melalui sedotan. “
“Lubang-lubang pada sedotan adalah simbol dari keluhan-keluhan atau gerutuan-gerutuan yang sering kamu lakukan. Keluhan dan gerutuanmu akan mengurangi kebahagiaanmu sendiri. Apakah lubang-lubang di sedotan itu ada manfaatnya?”
“Nggak ada dong Bu….”
“Begitulah dengan keluhan dan gerutuanmu, tidak bermanfaat bagi dirimu sendiri maupun orang lain. Sekarang coba kamu tutup lubang-lubang itu dengan jari-jarimu…”
“Naah sekarang sudah enak lagi Bu….”
“Itulah yang harus kamu lakukan…Tutup mulutmu dengan tanganmu saat kamu ingin mengeluh atau menggerutu, agar tidak mengurangi kebahagiaanmu. Seperti saat minum kamu hanya menggunakan lubang utama sedotan, kamu harus selalu fokus pada kebahagiaanmu…”
RENUNGAN:
Teman-teman, berhentilah mengeluh dan menggerutu! Karena tidak ada manfaatnya bagi diri sendiri maupun orang lain, kecuali mengurangi kebahagiaanmu sendiri. FOKUSLAH pada KEBAHAGIAAN.
KISAH SEDOTAN YANG BOCOR
Seorang ibu memiliki seorang putri yang mulai beranjak remaja. Sang putri sebenarnya seorang anak yang ceria, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Tetapi ada satu perilakunya yang sangat mengganggu orang-orang di sekitarnya dan dirinya sendiri, yaitu suka mengeluh atau menggerutu. Sang ibu sudah berkali-kali mengingatkan putrinya untuk menghentikan kebiasaan buruknya, tetapi belum bisa membuat putrinya sepenuhnya sadar.
Suatu hari sang ibu membuatkan sirup markisa yang memang minuman kesukaan putrinya. Saat putrinya baru pulang sekolah, ibu sudah menyiapkan sirup markisa dalam gelas besar lengkap dengan sedotannya.
“Wah segar sekali…terima kasih Ibu….”
“Sirup dan kesegarannya itu adalah simbol kebahagiaanmu anakku…”
Saat sang putri sudah meminum sepertiga gelas, ibu menyuruh untuk menghentikan.
“Coba hentikan dulu anakku…Ini ada jarum yang sudah ibu bersihkan. Tusuklah sedotanmu dengan jarum ini di bagian yang di atas permukaan sirup. Buatlah dua atau tiga lubang di situ…”
Meskipun bingung putrinya menjalankan perintah sang ibu.
“Sekarang minumlah lagi…habiskan sirupmu…”
“Jadi gak enak Bu…Lubang-lubang kecil itu membuat aku sulit menghisap sirup melalui sedotan. “
“Lubang-lubang pada sedotan adalah simbol dari keluhan-keluhan atau gerutuan-gerutuan yang sering kamu lakukan. Keluhan dan gerutuanmu akan mengurangi kebahagiaanmu sendiri. Apakah lubang-lubang di sedotan itu ada manfaatnya?”
“Nggak ada dong Bu….”
“Begitulah dengan keluhan dan gerutuanmu, tidak bermanfaat bagi dirimu sendiri maupun orang lain. Sekarang coba kamu tutup lubang-lubang itu dengan jari-jarimu…”
“Naah sekarang sudah enak lagi Bu….”
“Itulah yang harus kamu lakukan…Tutup mulutmu dengan tanganmu saat kamu ingin mengeluh atau menggerutu, agar tidak mengurangi kebahagiaanmu. Seperti saat minum kamu hanya menggunakan lubang utama sedotan, kamu harus selalu fokus pada kebahagiaanmu…”
RENUNGAN:
Teman-teman, berhentilah mengeluh dan menggerutu! Karena tidak ada manfaatnya bagi diri sendiri maupun orang lain, kecuali mengurangi kebahagiaanmu sendiri. FOKUSLAH pada KEBAHAGIAAN.
Label:
kisah Bijak
23.06
Alkisah, ada seorang anak kelas 5 SD bernama Adi. Setiap hari, Adi tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Biasanya saat ia datang, belum ada satu pun teman sekelasnya yang datang.
Suatu hari
, saat istirahat, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari rumah berkurang separuh . "Siapakah gerangan yang mengambil bekalku?" batinnya dalam hati sambil mengitarkan pandangan curiga ke seputar kelas.
Sepulang dari sekolah, diceritakan kasus bekal yang hilang kepada ibunya. "Ibu tidak lupa menyiapkan bekal untukku sebanyak dua potong kan?" tanya Adi penasaran.
"Iya, Ibu ingat sekali menyiapkan bekalmu dua potong, bukan sepotong," jawab ibu Adi meyakinkan.
Seminggu kemudian, saat kembali ke kelas, tanpa sengaja, Adi terkejut melihat penjaga sekolah mengendap-endap memasuki kelas yang masih kosong. Dia membuka tas Adi dan mengambil sepotong bekalnya. Kemudian bergegas pergi dengan muka tampak tertekan dan murung.
Sepulang dari sekolah, Adi menceritakan kejadian itu kepada ibunya. "Ibu, ternyata pencurinya si penjaga sekolah. Apa yang harus Adi lakukan, Bu? Kalau Adi laporkan ke wali kelas atau kepala sekolah, dia pasti diberi sanksi, bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Kasihan kan, Bu. Walaupun orangnya baik, tapi yang diperbuat kan salah".
Dengan tersenyum sayang, ibunya menjawab, "Saran ibu, jangan dilaporkan dulu ke sekolah. Ibu kenal baik keluarga penjaga sekolahmu itu. Dia bukan penjahat. Pasti karena terpaksa dia mengambil setengah bekalmu. Dan masih berbaik hati meninggalkan setengahnya untuk Adi agar Adi tidak kelaparan. Begini saja, besok akan Ibu siapkan bekal lebih banyak, dua kali dari biasanya. Adi berikan sebungkus kepada penjaga sekolah. Cukup berikan saja, tidak perlu menegur atau berkata apapun kepadanya. Kita lihat apa reaksinya, setuju?"
Keesokan harinya, Adi menemui penjaga sekolah dan menyerahkan sebungkus bekal. Penjaga sekolah terkejut sesaat, wajahnya pucat dan takjub. Dengan tangan gemetar, diterimanya bingkisan itu. Tampak matanya berkaca-kaca.
Sambil terbata-bata dia berkata, "Terima kasih, terima kasih Nak. Bapak minta maaf telah mengambil setengah jatah bekal Nak Adi. Bapak sungguh menyesal dan dihantui perasaan bersalah. Bapak lakukan karena terpaksa. Anak bapak sakit, sedangkan uang kami tidak cukup untuk membeli makanan karena istri bapak memerlukan biaya untuk melahirkan. Mohon maafkan Bapak, Nak. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya. Dan terima kasih karena tidak melaporkan kepada pihak sekolah sehingga Bapak masih bisa bekerja. Sampaikan permintaan maaf dan terima kasih kami pada ibumu. Sungguh beliau seorang ibu yang baik dan bijak". Sambil mengangguk senang, Adi meninggalkan penjaga sekolahnya.
Teman-teman yang luar biasa,
kesalahan, walau dengan alasan apapun, tidak akan menjadi benar. Mau menyadari, mengakui kesalahan, dan meminta maaf adalah sebuah kebesaran jiwa. Dan berjanji untuk tidak mengulangi adalah kebijaksanaan tertinggi.
Sebaliknya, bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan rela memberi bantuan dan menyadarkannya, bukan hanya damai di hati tetapi sekaligus menunjukkan kita, manusia, sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka jelas sekali, jika bisa berbagi, kita akan bahagia. Share and be happy.
Be Share and to be Happy - Berbagi dan Berbahagialah
Alkisah, ada seorang anak kelas 5 SD bernama Adi. Setiap hari, Adi tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Biasanya saat ia datang, belum ada satu pun teman sekelasnya yang datang.
Suatu hari
, saat istirahat, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari rumah berkurang separuh . "Siapakah gerangan yang mengambil bekalku?" batinnya dalam hati sambil mengitarkan pandangan curiga ke seputar kelas.
Sepulang dari sekolah, diceritakan kasus bekal yang hilang kepada ibunya. "Ibu tidak lupa menyiapkan bekal untukku sebanyak dua potong kan?" tanya Adi penasaran.
"Iya, Ibu ingat sekali menyiapkan bekalmu dua potong, bukan sepotong," jawab ibu Adi meyakinkan.
Seminggu kemudian, saat kembali ke kelas, tanpa sengaja, Adi terkejut melihat penjaga sekolah mengendap-endap memasuki kelas yang masih kosong. Dia membuka tas Adi dan mengambil sepotong bekalnya. Kemudian bergegas pergi dengan muka tampak tertekan dan murung.
Sepulang dari sekolah, Adi menceritakan kejadian itu kepada ibunya. "Ibu, ternyata pencurinya si penjaga sekolah. Apa yang harus Adi lakukan, Bu? Kalau Adi laporkan ke wali kelas atau kepala sekolah, dia pasti diberi sanksi, bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Kasihan kan, Bu. Walaupun orangnya baik, tapi yang diperbuat kan salah".
Dengan tersenyum sayang, ibunya menjawab, "Saran ibu, jangan dilaporkan dulu ke sekolah. Ibu kenal baik keluarga penjaga sekolahmu itu. Dia bukan penjahat. Pasti karena terpaksa dia mengambil setengah bekalmu. Dan masih berbaik hati meninggalkan setengahnya untuk Adi agar Adi tidak kelaparan. Begini saja, besok akan Ibu siapkan bekal lebih banyak, dua kali dari biasanya. Adi berikan sebungkus kepada penjaga sekolah. Cukup berikan saja, tidak perlu menegur atau berkata apapun kepadanya. Kita lihat apa reaksinya, setuju?"
Keesokan harinya, Adi menemui penjaga sekolah dan menyerahkan sebungkus bekal. Penjaga sekolah terkejut sesaat, wajahnya pucat dan takjub. Dengan tangan gemetar, diterimanya bingkisan itu. Tampak matanya berkaca-kaca.
Sambil terbata-bata dia berkata, "Terima kasih, terima kasih Nak. Bapak minta maaf telah mengambil setengah jatah bekal Nak Adi. Bapak sungguh menyesal dan dihantui perasaan bersalah. Bapak lakukan karena terpaksa. Anak bapak sakit, sedangkan uang kami tidak cukup untuk membeli makanan karena istri bapak memerlukan biaya untuk melahirkan. Mohon maafkan Bapak, Nak. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya. Dan terima kasih karena tidak melaporkan kepada pihak sekolah sehingga Bapak masih bisa bekerja. Sampaikan permintaan maaf dan terima kasih kami pada ibumu. Sungguh beliau seorang ibu yang baik dan bijak". Sambil mengangguk senang, Adi meninggalkan penjaga sekolahnya.
Teman-teman yang luar biasa,
kesalahan, walau dengan alasan apapun, tidak akan menjadi benar. Mau menyadari, mengakui kesalahan, dan meminta maaf adalah sebuah kebesaran jiwa. Dan berjanji untuk tidak mengulangi adalah kebijaksanaan tertinggi.
Sebaliknya, bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan rela memberi bantuan dan menyadarkannya, bukan hanya damai di hati tetapi sekaligus menunjukkan kita, manusia, sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka jelas sekali, jika bisa berbagi, kita akan bahagia. Share and be happy.
Label:
kisah Bijak
22.57
Konon, ada sebuah kisah menarik ketika diceritakan Bruce Lee, sang master kungfu ditemui seorang pengajar seni bela diri lain, yang datang untuk memintanya sebuah nasihat, "Bagaimana teknik yang baik da
lam menghadap musuh?".
Dengan cepat, Bruce Lee merespon, "Apa itu musuh? Tidak ada musuh. Karena tidak ada kata "saya" atau "musuh" dalam pertempuran. Saya fokus dan menyatu dengan gerakannya saat dia menyerang.
Saya bermain. Semakin keras ia memukul, semakin keras pukulan akan berbalik kepadanya. Saya tidak memukul, tetapi saya memastikan orangpun menghargai saya secara utuh!"
Berkaitan dengan komentar Bruce Lee di atas, dapat kita perhatikan bahwa kungfu ataupun seni bela diri lainnya sebenarnya bukan saja bersifat fisik, tetapi banyak pembelajaran mental yang terkandung didalamnya.
Termasuk soal emosi pun, sebenarnya kita bisa belajar banyak dari pirnsip Kungfu. Karena itulah, kali ini kita akan bicara soal Kungfu Emosi. Istilah Kungfu Emosi ini sendiri, bukanlah istilah yang dibuat-buat.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles Manz, seorang penulis pengajar kepemimpinan dalam bukunya yang berjudul Emotional Discipline.
Apakah Kungfu Emosi itu? Prinsip Kungfu Emosi menurut Manz adalah mirip seperti yang dikatakan oleh Bruce Lee diatas, yakni upaya memanfaatkan kekuatan serangan dari lawan agar justru bisa menjadi keuntungan buat kita.
Menurut Mantz, logika kungfu pun dapat diterapkan pada konflik-konflik emosional. Pertama-tama, tetap respek dan menghormati seseorang yang menyerang Anda. Kedua, jangan membahayakan orang lain tanpa ada alasan yang jelas. Ketiga, daripada melawan serangan emosi, lebih baik kita pakai energi tersebut untuk cari solusi.
Musuh bebuyutan
Dalam menerapkan ilmu Kungfu Emosi ini, ada beberapa ciri "musuh bebuyutan" yang bisa jadi pemicu kapan serta situasi dimana ilmu Kungfu Emosi ini perlu Anda gunakan.
Pertama-tama adalah tatkala Anda harus menghadapi orang yang sangat defensif mempertahankan dirinya, serta mulai menyalahkan orang lain. Musuh lainnya adalah orang-orang yang senang menyerang ide-ide Anda atau yang terakhir adalah orang-orang yang telah melanggar hak Anda dan menyerang secara agresif kepentingan ataupun wewenang Anda.
Nah, sebelum kita bicarakan soal teknik dalam Kungfu Emosi ini, mari kita bicarakan respon umum yang biasanya diberikan oleh orang menghadapi musuh yang seperti itu.
Umumnya, respon paling sering dan paling primitif yang diberikan seseorang adalah respon general adaptation syndrome (GAS) yang berasal naluri di sistem limbik di otak yakni fight (melawan) atau flight (lari).
Namun, kedua-duanya sebenarnya sama sekali tidak memecahkan masalah menghadapi "musuh-musuh" di atas. Coba kita analisis.
Apa yang terjadi saat kita fight (melawan). Misalkan seseorang menyerang Anda dengan mengatakan bahwa produk kreasi Anda tidak laku di pasar karena Anda tidak mengerti pasar sama sekali.
Lantas, Anda membalasnya dengan mengatakan bahwa dia mengucapkan hal tersebut karena iri bahwa Andalah yang diberikan kesempatan mengembangkan produk. Apa yang akan terjadi?
Kemungkinan besar, dia akan menjadi semakin defensif. Persoalan yang sebenarnya pun makin tidak selesai, bahkan lebih buruknya, masalahnya kini bisa jadi semakin personal.
Bagaimana masalahnya jika kita menggunakan teknik flight (lari dari masalah)? Misalkan ada situasi dimana Anda diserang oleh salah satu famili Anda di depan keluarga besar.
Dia mengatakan anda tidak becus mengurus anak karena anak Anda ternyata baru saja mendapatkan kasus di sekolah. Apa yang terjadi jika Anda flight (lari) dari situasi ini? Akibatnya, si famili Anda tersebut, akan merasa seperti dapat angin.
Lain kali dia mungkin akan melakukannya lagi, bisa jadi pada diri Anda bisa pula dengan dia orang lain. Di sisi lain, ia pun tidak akan pernah belajar.
Teknik Kungfu Emosi
Di dalam program pelatihan kecerdasan emosional yang saya berikan, saya mengembangkan beberapa prinsip dari Charles Manz dan menyesuaikan dengan kondisi kita.
Saya menyebutnya teknik kungfu emosi. Filosofi utama dalam Kungfu Emosi ini adalah: Seek not to harm others, but only to protect self from violation by others.
Intinya, ada kalanya dimana kita juga harus berani "membela diri kita atau membela mereka yang diperlakukan secara tidak adil jika sudah terjadi pelanggaran prinsip-prinsip".
Bagaimana teknik kungfu emosi ini kita terapkan? Pertama, Anda merephrase ataupun mengulang apa yang dikatakan dan dilakukannya. Langkah ini untuk memperjelas dan untuk memfokuskan sehingga ia bisa melihat apa yang dikatakan dan dilakukannya.
Kedua, secara tegas, Anda ungkapkan apa yang Anda rasakan terkait dengan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tersebut. Setelah itu, Ketiga, Anda pun sebaiknya mengungkapkan apa yang kita kehendaki dan harapkan dari orang tersebut.
Dan kalaupun ternyata sikap kita tersebut tidak dihargai oleh orang tersebut, lantas pilihan terakhir yang mungkin kita lakukan barulah berupaya 'memberi pelajaran berharga baginya' namun Anda tetap mengendalikan emosi Anda.
Misalkan dalam suatu acara yang gagal, Anda pun dipersalahkan oleh rekan kerja Anda. Dia menyatakan didalam rapat umum bahwa salah satu sebab kegagalan acara adalah karena Anda begitu sibuknya sehingga dia tidak punya kesempatan untuk mempersiapkannya dengan Anda.
Padahal, jelas-jelas dialah yang sulit Anda hubungi dan berulangkali menolak untuk bertemu. Maka, teknik kungfu emosi ini bisa dipakai dengan kalimat, "Barusan saya mendengar Anda mengatakan bahkan acara ini menjadi gagal karena kurangnya persiapan waktu yang disebabkan oleh saya yang sulit untuk diajak bertemu.
Saat mendengar komentar Anda, terus terang saya marah sekaligus merasa dipersalahkan. Saya pikir lebih baik kita berfokus pada faktor-faktor yang membuat acara kita gagal daripada saling menyalahkan orang."
Namun, bagaimana jika ternyata yang diberitahu justru semakin gencar menyerang? Maka langkah memberikan pelajaran pun harus dimulai. Langkah pertama paling mudah dan sederhana adalah dengan membeberkan fakta yang perlu ia ketahui, sehingga ia tidak mengucapkan dan bersikap seenaknya.
Langkah membalas kedua adalah bisa dengan menyidir atau menggunakan humor sindiran buatnya. Selanjutnya, kalaupun ternyata berbagai cara tersebut tidak mempan dan orang itupun sama sekali tidak menghargai orang lain, mungkin beberapa langkah terakhir ini dapat dipakai, jika hal ini bisa menyadarkannya.
Meskipun, memang langkah ini sebaiknya dihindari. Sebab jika tidak dipergunakan dengan tepat, bisa menyulut api permusuhan yang semakin besar. Caranya, dengan menggunakan 'tombol panas' (hot button) orang tersebut, misalkan "Saya tahu Anda marah karena promosi Anda yang gagal.
Tetapi, jangan bawa-bawa emosi Anda dengan menuduh orang lain sembarangan". Ataupun jika orang tersebut tetap tidak bergeming, langkah terakhir adalah membingkai ulang serta balikkan (reframe and redirect) apa yang telah diucapkannya sehingga menjadi bumerang untuk orang itu sendiri.
Misalkan, "Heran sekali bisa punya partner segoblok kamu". Respons reframe and redirectnya menjadi, "Lha yang milih partner kan kamu, berarti kamu juga sama gobloknya dong".
Intinya, tentu saja menggunakan kungfu emosi ini harus bijak! Kita harus tetap memegang teguh prinsip-prinsip menghargai diri sendiri dan orang lain. Di sisi lain, kita juga fleksibel dalam menentukan langkah yang tepat, sebab tidak semuanya harus dilawan.
Seperti kata Bruce Lee, jadilah seperti air yang mengalir, Be water, my friend. Be water. It can flow or it can crash. Be water my friend!
KISAH BRUCE LEE TENTANG KUNGFU EMOSI
Konon, ada sebuah kisah menarik ketika diceritakan Bruce Lee, sang master kungfu ditemui seorang pengajar seni bela diri lain, yang datang untuk memintanya sebuah nasihat, "Bagaimana teknik yang baik da
lam menghadap musuh?".
Dengan cepat, Bruce Lee merespon, "Apa itu musuh? Tidak ada musuh. Karena tidak ada kata "saya" atau "musuh" dalam pertempuran. Saya fokus dan menyatu dengan gerakannya saat dia menyerang.
Saya bermain. Semakin keras ia memukul, semakin keras pukulan akan berbalik kepadanya. Saya tidak memukul, tetapi saya memastikan orangpun menghargai saya secara utuh!"
Berkaitan dengan komentar Bruce Lee di atas, dapat kita perhatikan bahwa kungfu ataupun seni bela diri lainnya sebenarnya bukan saja bersifat fisik, tetapi banyak pembelajaran mental yang terkandung didalamnya.
Termasuk soal emosi pun, sebenarnya kita bisa belajar banyak dari pirnsip Kungfu. Karena itulah, kali ini kita akan bicara soal Kungfu Emosi. Istilah Kungfu Emosi ini sendiri, bukanlah istilah yang dibuat-buat.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles Manz, seorang penulis pengajar kepemimpinan dalam bukunya yang berjudul Emotional Discipline.
Apakah Kungfu Emosi itu? Prinsip Kungfu Emosi menurut Manz adalah mirip seperti yang dikatakan oleh Bruce Lee diatas, yakni upaya memanfaatkan kekuatan serangan dari lawan agar justru bisa menjadi keuntungan buat kita.
Menurut Mantz, logika kungfu pun dapat diterapkan pada konflik-konflik emosional. Pertama-tama, tetap respek dan menghormati seseorang yang menyerang Anda. Kedua, jangan membahayakan orang lain tanpa ada alasan yang jelas. Ketiga, daripada melawan serangan emosi, lebih baik kita pakai energi tersebut untuk cari solusi.
Musuh bebuyutan
Dalam menerapkan ilmu Kungfu Emosi ini, ada beberapa ciri "musuh bebuyutan" yang bisa jadi pemicu kapan serta situasi dimana ilmu Kungfu Emosi ini perlu Anda gunakan.
Pertama-tama adalah tatkala Anda harus menghadapi orang yang sangat defensif mempertahankan dirinya, serta mulai menyalahkan orang lain. Musuh lainnya adalah orang-orang yang senang menyerang ide-ide Anda atau yang terakhir adalah orang-orang yang telah melanggar hak Anda dan menyerang secara agresif kepentingan ataupun wewenang Anda.
Nah, sebelum kita bicarakan soal teknik dalam Kungfu Emosi ini, mari kita bicarakan respon umum yang biasanya diberikan oleh orang menghadapi musuh yang seperti itu.
Umumnya, respon paling sering dan paling primitif yang diberikan seseorang adalah respon general adaptation syndrome (GAS) yang berasal naluri di sistem limbik di otak yakni fight (melawan) atau flight (lari).
Namun, kedua-duanya sebenarnya sama sekali tidak memecahkan masalah menghadapi "musuh-musuh" di atas. Coba kita analisis.
Apa yang terjadi saat kita fight (melawan). Misalkan seseorang menyerang Anda dengan mengatakan bahwa produk kreasi Anda tidak laku di pasar karena Anda tidak mengerti pasar sama sekali.
Lantas, Anda membalasnya dengan mengatakan bahwa dia mengucapkan hal tersebut karena iri bahwa Andalah yang diberikan kesempatan mengembangkan produk. Apa yang akan terjadi?
Kemungkinan besar, dia akan menjadi semakin defensif. Persoalan yang sebenarnya pun makin tidak selesai, bahkan lebih buruknya, masalahnya kini bisa jadi semakin personal.
Bagaimana masalahnya jika kita menggunakan teknik flight (lari dari masalah)? Misalkan ada situasi dimana Anda diserang oleh salah satu famili Anda di depan keluarga besar.
Dia mengatakan anda tidak becus mengurus anak karena anak Anda ternyata baru saja mendapatkan kasus di sekolah. Apa yang terjadi jika Anda flight (lari) dari situasi ini? Akibatnya, si famili Anda tersebut, akan merasa seperti dapat angin.
Lain kali dia mungkin akan melakukannya lagi, bisa jadi pada diri Anda bisa pula dengan dia orang lain. Di sisi lain, ia pun tidak akan pernah belajar.
Teknik Kungfu Emosi
Di dalam program pelatihan kecerdasan emosional yang saya berikan, saya mengembangkan beberapa prinsip dari Charles Manz dan menyesuaikan dengan kondisi kita.
Saya menyebutnya teknik kungfu emosi. Filosofi utama dalam Kungfu Emosi ini adalah: Seek not to harm others, but only to protect self from violation by others.
Intinya, ada kalanya dimana kita juga harus berani "membela diri kita atau membela mereka yang diperlakukan secara tidak adil jika sudah terjadi pelanggaran prinsip-prinsip".
Bagaimana teknik kungfu emosi ini kita terapkan? Pertama, Anda merephrase ataupun mengulang apa yang dikatakan dan dilakukannya. Langkah ini untuk memperjelas dan untuk memfokuskan sehingga ia bisa melihat apa yang dikatakan dan dilakukannya.
Kedua, secara tegas, Anda ungkapkan apa yang Anda rasakan terkait dengan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tersebut. Setelah itu, Ketiga, Anda pun sebaiknya mengungkapkan apa yang kita kehendaki dan harapkan dari orang tersebut.
Dan kalaupun ternyata sikap kita tersebut tidak dihargai oleh orang tersebut, lantas pilihan terakhir yang mungkin kita lakukan barulah berupaya 'memberi pelajaran berharga baginya' namun Anda tetap mengendalikan emosi Anda.
Misalkan dalam suatu acara yang gagal, Anda pun dipersalahkan oleh rekan kerja Anda. Dia menyatakan didalam rapat umum bahwa salah satu sebab kegagalan acara adalah karena Anda begitu sibuknya sehingga dia tidak punya kesempatan untuk mempersiapkannya dengan Anda.
Padahal, jelas-jelas dialah yang sulit Anda hubungi dan berulangkali menolak untuk bertemu. Maka, teknik kungfu emosi ini bisa dipakai dengan kalimat, "Barusan saya mendengar Anda mengatakan bahkan acara ini menjadi gagal karena kurangnya persiapan waktu yang disebabkan oleh saya yang sulit untuk diajak bertemu.
Saat mendengar komentar Anda, terus terang saya marah sekaligus merasa dipersalahkan. Saya pikir lebih baik kita berfokus pada faktor-faktor yang membuat acara kita gagal daripada saling menyalahkan orang."
Namun, bagaimana jika ternyata yang diberitahu justru semakin gencar menyerang? Maka langkah memberikan pelajaran pun harus dimulai. Langkah pertama paling mudah dan sederhana adalah dengan membeberkan fakta yang perlu ia ketahui, sehingga ia tidak mengucapkan dan bersikap seenaknya.
Langkah membalas kedua adalah bisa dengan menyidir atau menggunakan humor sindiran buatnya. Selanjutnya, kalaupun ternyata berbagai cara tersebut tidak mempan dan orang itupun sama sekali tidak menghargai orang lain, mungkin beberapa langkah terakhir ini dapat dipakai, jika hal ini bisa menyadarkannya.
Meskipun, memang langkah ini sebaiknya dihindari. Sebab jika tidak dipergunakan dengan tepat, bisa menyulut api permusuhan yang semakin besar. Caranya, dengan menggunakan 'tombol panas' (hot button) orang tersebut, misalkan "Saya tahu Anda marah karena promosi Anda yang gagal.
Tetapi, jangan bawa-bawa emosi Anda dengan menuduh orang lain sembarangan". Ataupun jika orang tersebut tetap tidak bergeming, langkah terakhir adalah membingkai ulang serta balikkan (reframe and redirect) apa yang telah diucapkannya sehingga menjadi bumerang untuk orang itu sendiri.
Misalkan, "Heran sekali bisa punya partner segoblok kamu". Respons reframe and redirectnya menjadi, "Lha yang milih partner kan kamu, berarti kamu juga sama gobloknya dong".
Intinya, tentu saja menggunakan kungfu emosi ini harus bijak! Kita harus tetap memegang teguh prinsip-prinsip menghargai diri sendiri dan orang lain. Di sisi lain, kita juga fleksibel dalam menentukan langkah yang tepat, sebab tidak semuanya harus dilawan.
Seperti kata Bruce Lee, jadilah seperti air yang mengalir, Be water, my friend. Be water. It can flow or it can crash. Be water my friend!
Label:
kisah Bijak
22.55
"There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle, the other is as though everything is a miracle."
-- Albert Einstein, fisikawan
MENJENGUK teman tidaklah cukup hanya dengan membawa sekeranjang buah jeruk, tetapi juga keluasan hati untuk mendengarkan curahan hatinya. Sepekan lalu, saya menjenguk seorang teman lama. Dia terbaring di tempat tidur. Agak aneh bin terkejut juga. Padahal diantara teman-teman saya yang lain, dia paling giat berolahraga. Nge-gym, yang saat ini menjadi bagian gaya hidup kaum urban, menjadi makanan sehari-harinya. Namun apakah sebabnya tubuh gagahnya kini menjadi lunglai?
Manusia berbeda dengan mobil tentu saja. Biarpun tubuh masih fit, tapi kalau hati sedang gundah-gulana, semua bisa berantakan. Nah, ternyata penyakit itu yang kini menerpa dia. Ia merasa kesal luar biasa hanya karena teman setimnya di kantornya dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi, sedangkan ia tidak. Promosi yang berarti, pangkat naik, gajipun meningkat drastis.
Padahal menurutnya, dia dan temannya itu sama-sama melakukan pekerjaan dengan baik. Maklum, mereka berada dalam satu tim. Bekerja bersama, jatuh bangun bersama. Tapi apa mau dikata, ia tidak mendapatkan promosi. Ia merasa tertekan, dan memikirkan hal ini selama berhari-hari. Itu yang menyebabkan kenapa ia harus istrirahat.
Bukan lantaran sok tahu. Namun saya mencoba untuk mengingatkan sesuatu padanya. Dengan setengah tak enak hati, saya bertanya padanya: apakah bila ia memikirkan hal tersebut akan dapat mengubah hasilnya? Ia bakal promosi misalnya? Dia diam seribu bahasa. Namun ekpresi wajahnya seakan ingin mengatakan: Tidaakkkk!
Hal ini sebenarnya tak beda jauh ketika saya menghadiri acara dialog politik beberapa bulan yang lalu. Seorang peserta bertanya kepada seorang tokoh yang menjadi narasumber, bagaimana ditengah gempuran lawan-lawan politiknya ia tetap tenang dan terlihat menikmati hidupnya. Pertanyaannya sederhana, bagaimana ia mengatasi hal itu?
Ia berkata bahwa ia tak memiliki resep khusus. Ia hanya mengatakan bahwa ia teringat akan ucapan fisikawan terkenal Albert Einstein, "There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle, the other is as though everything is a miracle." Dengan kata lain, ia ingin mengatakan bahwa ada dua cara untuk menikmati hidup ini, yang pertama, anggap saja suatu peristiwa bukan sebagai suatu keajaiban, dan kedua, anggaplah peristiwa tersebut sebagai suatu keajaiban. Atau secara kasar, untuk hal yang pertama dapat dikatakan, anggaplah peristiwa itu tak pernah ada.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering disuguhi masalah-masalah sepele, tetapi justeru karena saking sepelenya, malah menguras energi kita. Waktu, tenaga, dan pikiran habis terbuang percuma untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu tersebut. Rupanya di situlah letak keberhasilan Einstein sebagai tokoh besar di planet ini.
Dia bukan sekadar ahli fisika. Dia justeru mengajarkan bagaimana kita menghargai hidup ini. Bahwa anggap saja kejadian yang tidak penting itu tidak pernah ada. Membuang energi untuk hal-hal yang tidak perlu, sungguh mubazir dan melelahkan. Istilahnya: gak penting banget! Malah bikin jadi penyakit. Waktu yang kita punya, alangkah lebih bermakna bila diisi dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan positif, ketimbang memikirkan sesuatu yang kita tahu bakal tak ada gunanya. Is that right, brother or sistar ?
MESSAGE FROM EINSTEIN
"There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle, the other is as though everything is a miracle."
-- Albert Einstein, fisikawan
MENJENGUK teman tidaklah cukup hanya dengan membawa sekeranjang buah jeruk, tetapi juga keluasan hati untuk mendengarkan curahan hatinya. Sepekan lalu, saya menjenguk seorang teman lama. Dia terbaring di tempat tidur. Agak aneh bin terkejut juga. Padahal diantara teman-teman saya yang lain, dia paling giat berolahraga. Nge-gym, yang saat ini menjadi bagian gaya hidup kaum urban, menjadi makanan sehari-harinya. Namun apakah sebabnya tubuh gagahnya kini menjadi lunglai?
Manusia berbeda dengan mobil tentu saja. Biarpun tubuh masih fit, tapi kalau hati sedang gundah-gulana, semua bisa berantakan. Nah, ternyata penyakit itu yang kini menerpa dia. Ia merasa kesal luar biasa hanya karena teman setimnya di kantornya dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi, sedangkan ia tidak. Promosi yang berarti, pangkat naik, gajipun meningkat drastis.
Padahal menurutnya, dia dan temannya itu sama-sama melakukan pekerjaan dengan baik. Maklum, mereka berada dalam satu tim. Bekerja bersama, jatuh bangun bersama. Tapi apa mau dikata, ia tidak mendapatkan promosi. Ia merasa tertekan, dan memikirkan hal ini selama berhari-hari. Itu yang menyebabkan kenapa ia harus istrirahat.
Bukan lantaran sok tahu. Namun saya mencoba untuk mengingatkan sesuatu padanya. Dengan setengah tak enak hati, saya bertanya padanya: apakah bila ia memikirkan hal tersebut akan dapat mengubah hasilnya? Ia bakal promosi misalnya? Dia diam seribu bahasa. Namun ekpresi wajahnya seakan ingin mengatakan: Tidaakkkk!
Hal ini sebenarnya tak beda jauh ketika saya menghadiri acara dialog politik beberapa bulan yang lalu. Seorang peserta bertanya kepada seorang tokoh yang menjadi narasumber, bagaimana ditengah gempuran lawan-lawan politiknya ia tetap tenang dan terlihat menikmati hidupnya. Pertanyaannya sederhana, bagaimana ia mengatasi hal itu?
Ia berkata bahwa ia tak memiliki resep khusus. Ia hanya mengatakan bahwa ia teringat akan ucapan fisikawan terkenal Albert Einstein, "There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle, the other is as though everything is a miracle." Dengan kata lain, ia ingin mengatakan bahwa ada dua cara untuk menikmati hidup ini, yang pertama, anggap saja suatu peristiwa bukan sebagai suatu keajaiban, dan kedua, anggaplah peristiwa tersebut sebagai suatu keajaiban. Atau secara kasar, untuk hal yang pertama dapat dikatakan, anggaplah peristiwa itu tak pernah ada.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering disuguhi masalah-masalah sepele, tetapi justeru karena saking sepelenya, malah menguras energi kita. Waktu, tenaga, dan pikiran habis terbuang percuma untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu tersebut. Rupanya di situlah letak keberhasilan Einstein sebagai tokoh besar di planet ini.
Dia bukan sekadar ahli fisika. Dia justeru mengajarkan bagaimana kita menghargai hidup ini. Bahwa anggap saja kejadian yang tidak penting itu tidak pernah ada. Membuang energi untuk hal-hal yang tidak perlu, sungguh mubazir dan melelahkan. Istilahnya: gak penting banget! Malah bikin jadi penyakit. Waktu yang kita punya, alangkah lebih bermakna bila diisi dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan positif, ketimbang memikirkan sesuatu yang kita tahu bakal tak ada gunanya. Is that right, brother or sistar ?
Label:
motivasi diri
Diberdayakan oleh Blogger.





